Laman

Rabu, 30 Mei 2012

PERBANDINGAN KESELAMATAN AGAMA KRISTEN DENGAN AGAMA-AGAMA LAIN


Di dalam dunia ini banyak sekali organisasi agama yang dimunculkan oleh manusia dimana ia mengatakan dirinya telah mendapatkan wahyu dari Allah atau banyak kitab yang dimunculkan oleh iblis yang mengklaim dirinya firman yang dari Allah. Dalam hal ini manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki kehendak bebas untuk berpikir, diberikan pilihan untuk memilih kitab manakah yang berasal dari Allah? Dalam hal menentukan kitab manakah yang benar, seseorang harus dapat memastikan apa yang ia putuskan untuk memilih apa yang dia percayai adalah kitab yang benar-benar firman Allah, jika salah memilih maka dia akan beriman semasa hidupnya adalah salah. Oleh karena itu kebenaran hanya dapat diargumentasikan tidak dapat memakai kekerasan atau kekuasaan pemerintah untuk meyakinkan seseorang untuk ikut apa yang dipercayainya.
            Dalam karya tulis ini, penulis ingin menjelaskan perbandingan keselamatan agama Kristen dengan agama-agama lain yakni; Hinduisme, Jainisme, Zoroatrianisme, Yudaisme, dan Islam. Kelima agama ini akan dibahas bagaimana seseorang dapat masuk sorga, dan dibandingkan dengan ajaran keselamatan agama Kristen. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak hal-hal yang perlu ditambahkan.
A. Hinduisme
            Dalam pengajaran agama Hinduisme tidak ada dosa yang melawan Allah yang suci. Perbuatan-perbuatan salah yang menentang Allah apapun, itu hanya merupakan  sebuah akibat karena ketidaktahuan. Hal ini dapat diatasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk kasta seseorang dan jalan keselamatan, karena Hinduisme mengajarkan tidak ada dosa atau kesalahan yang menentang Allah sehingga keselamatan dapat dicapai dengan usaha sendiri tanpa ada pertolongan dari Allah. Sebaliknya, agama Kristen mengajarkan bahwa dosa merupakan sebuah perbuatan nyata yang memberontak melawan Allah (1 Yoh. 3:4). Segala perbuatan pelanggaran merupakan pemberontakan yang pada akhirnya menentang hukum-hukum Allah (Kel. 20). Dosa mengakibatkan terpisahnya/putusnya hubungan manusia dengan Allah (Yes. 59:1-2).
            Keselamatan dalam Hinduisme dapat dicapai dengan salah satu cara dari tiga cara yang umum yakni; dengan pengetahuan, dengan ibadah, dan dengan perbuatan, atau mengikuti upacara-upacara rituil.[1] Keselamatan Hinduisme ini merupakan berasal dari siklus kelahiran, kematian dan kelahiran kembali yang tiada hentinya. Tetapi di dalam ajaran agama Kristen, keselamatan diperoleh dari sebuah kekuatan pemisahan kekal dari Allah dan tidak bisa diperoleh dengan suatu perbuatan baik yang intinya adalah usaha manusia, namun sebaliknya diberikan dengan secara Cuma-Cuma oleh Allah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Rasul Paulus berkata di dalam surat Efesus 2:8-9, mengatakan bahwa: “sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”
B. Jainisme
            Hinduisme melahirkan tiga faksi agama: Jainisme, Budhisme, dan Sikhisme.[2] Di dalam agama Hindu, Jainisme memulai sebuah gerakan reformasi, namun segera menjadi sebuah agama independent yang berdasarkan pengajaran pendirinya, Mahavira. Jainisme berawal sebagai sebuah gerakan bidat di dalam Hinduisme (seperti Saksi Yehovah dengan Kekristenan), namun kini dipandang sebagai sebuah agama yang berbeda dengan rujukan kepada Hinduisme. Pendiri agama Jainisme ini memegang teguh keyakinan Hindu tersebut sebagai hukum balas jasa moral atau karma dan perpindahan jiwa setelah mati. Kedua agama ini memiliki keyakinan yang hampir sama, namun ada perbedaan.
            Jainisme adalah sebuah agama astekisme yang meliputi penyangkalan diri yang kaku.[3] Keselamatan atau pembebasan hanya dapat dicapai dengan praktek asketikisme atau penyiksaan diri. Jainisme merupakan sebuah agama legalisme, karena orang hanya bisa mencapai keselamatannya dengan usahanya sendiri. Dalam agama ini tidak ada kebebasan bagi pengikutnya, kecuali mengikuti peratuaran atau ajaran agama tersebut. Keselamatan Jainisme ini adalah kebalikan dari sistem yang mengajarkan keselamatan di dalam pengertian agama Hindu. Agama Kristen mengajarkan, membebaskan orang dari dosa atau dari murka Allah hanya melalui Yesus Kristus tidak ada yang lain selain Dia (Yoh. 14:6).
            Jika, sesorang percaya kepada Yesus maka ia memiliki kepastian kemerdekaan dari hukuman Allah (Yoh. 8:36). Yesus memanggil orang yang berbeban berat (dosa) untuk memberi kelegaan (Mat. 11:28-30), iman yang diajarkan Yesus meringankan beban manusia, sedangkan Jainisme, iman yang ia ajarkan adalah menambahi beban manusia dan bahkan tidak memiliki kepastian kebebasan dalam hidup seseorang.
C. Zoroatrianisme
            Keselamatan agama Zoroatrainisme adalah percaya bahwa seseorang memperoleh kemurahan dari Allah karena hasil perbuatan mereka. Agama Zoroatrianisme ini cara menyelesaikan dosa hampir sama dengan agama Hinduisme, dan Jainisme yaitu semuanya merupakan usaha manusia tanpa ada bantuan dari Allah. Alasan Zoroatrisme bahwa keselamatan diperoleh dengan hasil perbuatan baiknya yaitu karena tidak ada jawaban atas persoalan dosa manusia, karena perbedaan antara seorang yang baik dan jahat dianggap suatu hal yang relatif.
            Keselamatan dalam ajaran agama Kristen merupakan pemberian Allah secara Cuma-Cuma kepada siapa saja asal ia percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus yang telah mati di atas kayu salib (Kis. 16:31; Yoh, 3:16,18). Di dalam Alkitab ditulis, “oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). Tidak ada seorangpun atas usahanya sendiri yang dapat memenuhi syarat untuk masuk sorga. Karena itulah Yesus Kristus harus mati di atas kayu salib, untuk menyelesaikan masalah dosa (Yes.53:5; 1 Pet. 2:24).
D. Yudaisme
            Agama Yudaisme berawal ketiaka seseorang bernama Abram menerima panggilan dari Allah untuk meninggalkan kaumnya yang menyembah berhala di Ur-Kaasdim dan pergi ketanah Kanaan (Kej. 12:1-3). Tujuan Allah menyuruh Abram meniggalkan kaumnya adalah supaya Abram tidak terkontaminasi dengan penyembahan mereka, dan Allah juga memakai keturunan Abram untuk menjadi bangsa yang selalu mengingatkan janji Allah akan kirim juruselamat dan memberitakan kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi bangsa Yahudi, mereka tidak berfungsi sebagamana mestinya sehingga ketika Mesias yang dijanjikan itu datang mereka tolak.
            Konsep keselamatan dalam agama Yudaisme yaitu penebusan diselesaikan dengan korban, penyesalan, perbuatan baik, dan mengecilkan kasih karunia Allah. Huston Smith dalam bukunya yang berjudul “The Religion Of Man” mengatakan bahwa, aspek material dari kehidupan seseorang penting (disinilah bersumber sikap yang taat mementingkan perikemanusian, dan pelayanan masyarakat di dunia barat); bahwa materi dapat ikut berpartisipasi dalam keselamatan diri.[4]
            Agama Yudaisme mengajarkan keselamatan atau penebusan diselesaikan dengan persembahan korban, tetapi dalam agama Kristen mengajarkan bahwa Yesus Kristus telah menanggung dosa manusia yang percaya kepada-Nya. Ia menyerahkan diri-Nya pada murka Allah atas orang berdosa dalam kematian-Nya di atas kayu salib. Ia menanggung dosa manusia, mati sebagai ganti mereka menerima hukuman yang patut diterima manusia dan membebaskan manusia dari perbudakan dosa (2 Kor. 5:19-21; 1 Pet. 2:22-24; 3:18).
E. Islam
            Islam dijalankan di bawah sebuah sistem legalistik dan harus berjuang untuk keselamatan. Mereka mempertahankan pengakuan iman dan mengikuti pilar iman. Bagi agama Islam, dosa merupakan masalah akibat kurang taat kepada Allah. Karena itu, manusia berdosa adalah karena sebab perbuatannya, bukan karena sifatnya. Oleh karena itu, agama Muslim mengajarkan kepada umatnya bahwa cara menyelesaikan dosa harus dengan amal, ibadah, dan perbuatan. Cara ini secara akal sehat tidak ada dasar bahwa seseorang dapat memastikan bahwa dirinya selamat dengan melaksanakan amal, ibadah, dan perbuatan dengan dosa yang ia perbuat. Ini semua adalah cara yang dibangun manusia untuk mendapatkan perkenaan dihadapan Allah.
            Dalam pengajaran agama Kristen mengatakan bahwa, “semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemulian Allah” (Rom.3:23). Oleh sebab itu, apapun cara manusia untuk mendapatkan perkenaan dihadapan Allah adalah gagal (Yes. 64:6; Yer. 13:23). Allah hanya bisa berkenan kepada manusia apila dosa-dosa manusia dibereskan, karena manusia tidak bisa menghampiri Allah yang kudus dalam keadaan berdosa. Yesus adalah penanggung dosa (2 Kor. 5:19-21; 1 Pet. 2:22-24). Ia menyerahkan diri pada murka suci Allah atas orang berdosa dalam kematian-Nya di atas kayu salib. Ia membebaskan manusia dari perbudakan dosa, asal manusia percaya atas karya Yesus Kristus di atas kayu salib yang telah mati bagi dosa mereka.
KESIMPULAN: Semua agama di dunia berkaitan dengan pengajaran, yaitu untuk mengajarkan manusia berkelakuan baik. Hal ini ditegaskan lebih lanjut oleh seluruh pendiri agama yang menyebut diri mereka “guru,” tetapi Yesus adalah juruselamat manusia. Semua agama ciptaan manusia tidak dapat mengubah sifat dasar manusia yang tercemar, sebaliknya keselamatan dari Allah itulah yang dibutuhkan setiap manusia. Manusia semua dikendalikan oleh dosa.
            "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh. 14:6). Ayat ini jelas bahwa hanyalah satu jalan keselamatan yaitu hanya kepada Yesus Kristus yang telah mati menggantikan orang berdosa, karena dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman bukan dengan menyogok Tuhan dengan cara beramal, rajin beribadah, berbuat baik yang intinya semua adalah usaha manusia (Ef. 2:8-9). Keselamatan hanyalah di dalam Yesus Kristus, jadi setiap orang yang bertobat dan percaya pada Yesus Kristus sebagai juruselamatnya ia akan memiliki hidup yang kekal. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4:12).


[1] Josh Mc Dowell, Handbook Of Todays Religions, (Jakarta: STT  Graphe, 1996), hal. 28.
[2] Ibid. Ha l. 42.
[3] Ibid. Hal.  43.
[4] Huston Smith, The Religions Of Man, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), hal. 308.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar