Di dalam dunia ini
banyak sekali organisasi agama yang dimunculkan oleh manusia dimana ia
mengatakan dirinya telah mendapatkan wahyu dari Allah atau banyak kitab yang
dimunculkan oleh iblis yang mengklaim dirinya firman yang dari Allah. Dalam hal
ini manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki kehendak bebas untuk berpikir,
diberikan pilihan untuk memilih kitab manakah yang berasal dari Allah? Dalam
hal menentukan kitab manakah yang benar, seseorang harus dapat memastikan apa
yang ia putuskan untuk memilih apa yang dia percayai adalah kitab yang
benar-benar firman Allah, jika salah memilih maka dia akan beriman semasa
hidupnya adalah salah. Oleh karena itu kebenaran hanya dapat diargumentasikan
tidak dapat memakai kekerasan atau kekuasaan pemerintah untuk meyakinkan
seseorang untuk ikut apa yang dipercayainya.
Dalam karya tulis ini, penulis ingin menjelaskan
perbandingan keselamatan agama Kristen dengan agama-agama lain yakni;
Hinduisme, Jainisme, Zoroatrianisme, Yudaisme, dan Islam. Kelima agama ini akan
dibahas bagaimana seseorang dapat masuk sorga, dan dibandingkan dengan ajaran
keselamatan agama Kristen. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak
hal-hal yang perlu ditambahkan.
A.
Hinduisme
Dalam pengajaran agama Hinduisme tidak ada dosa yang
melawan Allah yang suci. Perbuatan-perbuatan salah yang menentang Allah apapun,
itu hanya merupakan sebuah akibat karena
ketidaktahuan. Hal ini dapat diatasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk kasta
seseorang dan jalan keselamatan, karena Hinduisme mengajarkan tidak ada dosa
atau kesalahan yang menentang Allah sehingga keselamatan dapat dicapai dengan
usaha sendiri tanpa ada pertolongan dari Allah. Sebaliknya, agama Kristen
mengajarkan bahwa dosa merupakan sebuah perbuatan nyata yang memberontak
melawan Allah (1 Yoh. 3:4). Segala perbuatan pelanggaran merupakan
pemberontakan yang pada akhirnya menentang hukum-hukum Allah (Kel. 20). Dosa
mengakibatkan terpisahnya/putusnya hubungan manusia dengan Allah (Yes. 59:1-2).
Keselamatan dalam Hinduisme dapat dicapai dengan salah
satu cara dari tiga cara yang umum yakni; dengan pengetahuan, dengan ibadah,
dan dengan perbuatan, atau mengikuti upacara-upacara rituil.[1]
Keselamatan Hinduisme ini merupakan berasal dari siklus kelahiran, kematian dan
kelahiran kembali yang tiada hentinya. Tetapi di dalam ajaran agama Kristen,
keselamatan diperoleh dari sebuah kekuatan pemisahan kekal dari Allah dan tidak
bisa diperoleh dengan suatu perbuatan baik yang intinya adalah usaha manusia,
namun sebaliknya diberikan dengan secara Cuma-Cuma oleh Allah kepada siapa saja
yang mau menerimanya. Rasul Paulus berkata di dalam surat Efesus 2:8-9,
mengatakan bahwa: “sebab karena kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian
Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”
B.
Jainisme
Hinduisme melahirkan tiga faksi agama: Jainisme,
Budhisme, dan Sikhisme.[2] Di
dalam agama Hindu, Jainisme memulai sebuah gerakan reformasi, namun segera
menjadi sebuah agama independent yang berdasarkan pengajaran pendirinya,
Mahavira. Jainisme berawal sebagai sebuah gerakan bidat di dalam Hinduisme
(seperti Saksi Yehovah dengan Kekristenan), namun kini dipandang sebagai sebuah
agama yang berbeda dengan rujukan kepada Hinduisme. Pendiri agama Jainisme ini
memegang teguh keyakinan Hindu tersebut sebagai hukum balas jasa moral atau
karma dan perpindahan jiwa setelah mati. Kedua agama ini memiliki keyakinan
yang hampir sama, namun ada perbedaan.
Jainisme adalah sebuah agama astekisme yang meliputi
penyangkalan diri yang kaku.[3]
Keselamatan atau pembebasan hanya dapat dicapai dengan praktek asketikisme atau
penyiksaan diri. Jainisme merupakan sebuah agama legalisme, karena orang hanya
bisa mencapai keselamatannya dengan usahanya sendiri. Dalam agama ini tidak ada
kebebasan bagi pengikutnya, kecuali mengikuti peratuaran atau ajaran agama
tersebut. Keselamatan Jainisme ini adalah kebalikan dari sistem yang
mengajarkan keselamatan di dalam pengertian agama Hindu. Agama Kristen
mengajarkan, membebaskan orang dari dosa atau dari murka Allah hanya melalui
Yesus Kristus tidak ada yang lain selain Dia (Yoh. 14:6).
Jika, sesorang percaya kepada Yesus maka ia memiliki
kepastian kemerdekaan dari hukuman Allah (Yoh. 8:36). Yesus memanggil orang
yang berbeban berat (dosa) untuk memberi kelegaan (Mat. 11:28-30), iman yang
diajarkan Yesus meringankan beban manusia, sedangkan Jainisme, iman yang ia ajarkan
adalah menambahi beban manusia dan bahkan tidak memiliki kepastian kebebasan
dalam hidup seseorang.
C.
Zoroatrianisme
Keselamatan agama Zoroatrainisme adalah percaya bahwa
seseorang memperoleh kemurahan dari Allah karena hasil perbuatan mereka. Agama
Zoroatrianisme ini cara menyelesaikan dosa hampir sama dengan agama Hinduisme,
dan Jainisme yaitu semuanya merupakan usaha manusia tanpa ada bantuan dari
Allah. Alasan Zoroatrisme bahwa keselamatan diperoleh dengan hasil perbuatan
baiknya yaitu karena tidak ada jawaban atas persoalan dosa manusia, karena
perbedaan antara seorang yang baik dan jahat dianggap suatu hal yang relatif.
Keselamatan dalam ajaran agama Kristen merupakan
pemberian Allah secara Cuma-Cuma kepada siapa saja asal ia percaya dengan sungguh-sungguh
kepada Yesus Kristus yang telah mati di atas kayu salib (Kis. 16:31; Yoh,
3:16,18). Di dalam Alkitab ditulis, “oleh
kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan
diri” (Ef. 2:8-9). Tidak ada seorangpun atas usahanya sendiri yang dapat
memenuhi syarat untuk masuk sorga. Karena itulah Yesus Kristus harus mati di
atas kayu salib, untuk menyelesaikan masalah dosa (Yes.53:5; 1 Pet. 2:24).
D.
Yudaisme
Agama Yudaisme berawal ketiaka seseorang bernama Abram
menerima panggilan dari Allah untuk meninggalkan kaumnya yang menyembah berhala
di Ur-Kaasdim dan pergi ketanah Kanaan (Kej. 12:1-3). Tujuan Allah menyuruh
Abram meniggalkan kaumnya adalah supaya Abram tidak terkontaminasi dengan
penyembahan mereka, dan Allah juga memakai keturunan Abram untuk menjadi bangsa
yang selalu mengingatkan janji Allah akan kirim juruselamat dan memberitakan
kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi bangsa Yahudi, mereka tidak berfungsi
sebagamana mestinya sehingga ketika Mesias yang dijanjikan itu datang mereka
tolak.
Konsep keselamatan dalam agama Yudaisme yaitu penebusan
diselesaikan dengan korban, penyesalan, perbuatan baik, dan mengecilkan kasih
karunia Allah. Huston Smith dalam bukunya yang berjudul “The Religion Of Man” mengatakan bahwa, aspek material dari
kehidupan seseorang penting (disinilah bersumber sikap yang taat mementingkan
perikemanusian, dan pelayanan masyarakat di dunia barat); bahwa materi dapat
ikut berpartisipasi dalam keselamatan diri.[4]
Agama Yudaisme mengajarkan keselamatan atau penebusan diselesaikan
dengan persembahan korban, tetapi dalam agama Kristen mengajarkan bahwa Yesus
Kristus telah menanggung dosa manusia yang percaya kepada-Nya. Ia menyerahkan
diri-Nya pada murka Allah atas orang berdosa dalam kematian-Nya di atas kayu
salib. Ia menanggung dosa manusia, mati sebagai ganti mereka menerima hukuman
yang patut diterima manusia dan membebaskan manusia dari perbudakan dosa (2
Kor. 5:19-21; 1 Pet. 2:22-24; 3:18).
E. Islam
Islam dijalankan di bawah sebuah sistem legalistik dan
harus berjuang untuk keselamatan. Mereka mempertahankan pengakuan iman dan
mengikuti pilar iman. Bagi agama Islam, dosa merupakan masalah akibat kurang
taat kepada Allah. Karena itu, manusia berdosa adalah karena sebab
perbuatannya, bukan karena sifatnya. Oleh karena itu, agama Muslim mengajarkan
kepada umatnya bahwa cara menyelesaikan dosa harus dengan amal, ibadah, dan
perbuatan. Cara ini secara akal sehat tidak ada dasar bahwa seseorang dapat
memastikan bahwa dirinya selamat dengan melaksanakan amal, ibadah, dan
perbuatan dengan dosa yang ia perbuat. Ini semua adalah cara yang dibangun
manusia untuk mendapatkan perkenaan dihadapan Allah.
Dalam pengajaran agama Kristen mengatakan bahwa, “semua
manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemulian Allah” (Rom.3:23). Oleh
sebab itu, apapun cara manusia untuk mendapatkan perkenaan dihadapan Allah
adalah gagal (Yes. 64:6; Yer. 13:23). Allah hanya bisa berkenan kepada manusia
apila dosa-dosa manusia dibereskan, karena manusia tidak bisa menghampiri Allah
yang kudus dalam keadaan berdosa. Yesus adalah penanggung dosa (2 Kor. 5:19-21;
1 Pet. 2:22-24). Ia menyerahkan diri pada murka suci Allah atas orang berdosa
dalam kematian-Nya di atas kayu salib. Ia membebaskan manusia dari perbudakan
dosa, asal manusia percaya atas karya Yesus Kristus di atas kayu salib yang
telah mati bagi dosa mereka.
KESIMPULAN:
Semua
agama di dunia berkaitan dengan pengajaran, yaitu untuk mengajarkan manusia
berkelakuan baik. Hal ini ditegaskan lebih lanjut oleh seluruh pendiri agama
yang menyebut diri mereka “guru,” tetapi Yesus adalah juruselamat manusia.
Semua agama ciptaan manusia tidak dapat mengubah sifat dasar manusia yang
tercemar, sebaliknya keselamatan dari Allah itulah yang dibutuhkan setiap
manusia. Manusia semua dikendalikan oleh dosa.
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang
datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh. 14:6). Ayat ini jelas bahwa hanyalah
satu jalan keselamatan yaitu hanya kepada Yesus Kristus yang telah mati menggantikan
orang berdosa, karena dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman bukan dengan
menyogok Tuhan dengan cara beramal, rajin beribadah, berbuat baik yang intinya semua
adalah usaha manusia (Ef. 2:8-9). Keselamatan hanyalah di dalam Yesus Kristus, jadi
setiap orang yang bertobat dan percaya pada Yesus Kristus sebagai juruselamatnya
ia akan memiliki hidup yang kekal. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga
selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang
diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4:12).
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar