Latar belakang dari
Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia adalah kekecewaannya kepada mereka
yang tadinya mengetahui kekuatan kuasa Kristus yang memerdekakan itu justru
meninggalkannya dan jemaat Galatia mereka kembali diperhamba sebab mau hidup
menurut Hukum Taurat yang jelas tidak
dapat memberikan kemerdekaan kepada mereka seperi kuasa Injil Yesus Kristus.
Bukankah pengorbanan Kristus menggerakkan setiap orang keluar dari perhambaan
masuk ke dalam kemerdekaan anak-anak Allah?
Kekristenan sekarang ini juga banyak yang mengalami hal
yang sama seperti kondisi pengajaran yang dialami oleh jemaat Galatia yakni;
mereka mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh dengan melakukan Hukum Taurat
atau dengan usahanya, dan meninggalkan kemerdekaan yang dikerjakan oleh
pengorbanan Kristus dan kembali kepada perhambaan yang akan justru membinasakan
orang yang mendatangkan murka Allah (Rom. 4:15). Oleh sebab itu, tujuan dari
karya tulis ini untuk memberikan pemahaman yang tepat bagi orang percaya supaya
mengerti kebenaran tentang “kemerdekaan di dalam Kristus,” sekaligus untuk melengkapi tugas dan memenuhi
persyaratan untuk mata kuliah eksegesis kitab Galatia.
Apa yang akhirnya dimiliki oleh Hukum Taurat itu?
Kutukan, sebab barangsiapa yang tidak dapat memenuhinya menjadi terkutuk. Menjadi
dihukum. Janganlah hidup seakan-akan kematian Kristus kurang memiliki jasa yang
cukup untuk membebaskan setiap orang dari dosa. Pekerjaan Kristus itu cukup
untuk membebaskan manusia, untuk menyelamatkan manusia, Iman dalam Kristus
membawa manusia kepada tempat perlindungan, itu pula membebaskan orang dari
legalisme yaitu cara beriman yang mengandalkan kemampuan manusia memenuhi hukum
Tuhan dengan kekuatan atau kehebatannya sendiri.
Dalam surat Galatia, Paulus mengajarkan tentang
kemerdekaan Kristen. Para penganut Yudaisme beranggapan bahwa doktrin Paulus
tentang kasih karunia sangat berbahaya karena doktrinnya menggantikan Hukum
Taurat. Jika segala peraturan dan standar dihapuskan, maka jemaat Tuhan akan
berantakan. Tentu tidak demikian! Anugerah Allah pasti memberikan tanggung
jawab! Seseorang yang hidup di dalam anugerah Allah seharusnya memiliki
komitmen yang tinggi untuk lebih bertanggung jawab kepada Allah. Orang Kristen
yang hidup dengan iman tidak akan menjadi pemberontak.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata “merdeka” artinya bebas dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya;
berdiri sendiri; tidak terikat; tidak bergantung pada sesuatu yang lain.[1] Jadi,
kata “merdeka” adalah kata yang indah untuk didengar. Merdeka adalah
pengharapan bagi semua orang. Tak seorangpun yang rela diperbudak oleh orang
lain. Semua ingin menikmati kemerdekaan karena setiap orang pasti merindukan
kemerdekaan.
A.
Bebas Dari Hukum Taurat
Keselamatan tidak pernah diperoleh dengan mentaati Hukum
Taurat karena Hukum Taurat mendatangkan kutuk, bukan berkat. Galatia 3:10 ”Karena semua orang yang hidup dari
pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis:”Terkutuklah
orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum
Taurat”. Jadi Hukum Taurat sama sekali tidak dapat membebaskan manusia.
Surat Roma menjelaskan orang yang benar dan menyatakan bagaimana orang berdosa
dapat dibenarkan di hadapan Allah, dan surat Galatia menyatakan bagaimana orang
yang benar akan hidup, dan surat Ibrani membahas oleh iman.[2] Tidak
seorang pun pernah dapat hidup oleh Hukum Taurat karena Hukum Taurat
membinasakan dan menunjukkan kepada orang berdosa bahwa ia bersalah di hadapan
Allah (Rom. 3:20; 7:7-11). Hukum Taurat berkata, “lakukan dan hiduplah!” tetapi
kasih karunia berkata, “percayalah dan hiduplah!”
Itulah sebabnya Paulus berbicara tentang Kemerdekaan atau
Kebebasan yang menjadi milik setiap orang karena Iman atau Percaya dalam
Kristus. Paulus sebagai orang Yahudi juga telah bukan hanya mematuhi Hukum
Taurat tetapi juga Segenap Tafsiran Taurat itu,. Ia berjumpa dengan ratusan
larangan dan perintah yang harus dipatuhinya. Ia terikat untuk mematuhi
semuanya. Namun ketika ia bertemu dengan Kasih Karunia Allah adalam penjara.
Kristus membebaskan manusia bagi Kebebasan atau Kemerdekaan, bukan bagi
Penghukuman atau bagi Perhambaan. Manusia tidak dibenarkan karena
pekerjaan-pekerjaan penurutan akan Taurat itu, tetapi melalui Iman dalam
Kristus Yesus (Gal.2:16).”Kamu tahu bahwa
tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi
hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” Keselamatan bukan mengganti
satu macam perhambaan dengan macam perhambaan macam yang lain. Keselamatan
berarti dibebaskan dari perhambaan kepada dosa dan Hukum Taurat ke dalam
kebebasan kasih karunia Allah dengan perantaraan Kristus.
B.
Bebas dari Hamba Dosa
Hamba dapat diartikan sebagai orang yang terbelenggu atau
tertekan oleh sesuatu. Setiap orang yang telah merdeka dari dosa adalah
anak-anak Allah. Dalam Yohanes 8:29-32, Yesus pernah berkata kepada orang
banyak bahwa Ia berasal dari Surga, bukan dari dunia ini.
Setelah dosa diampuni saat seseorang percaya kepada Yesus
Kristus, ada kemungkinan ia jatuh ke dalam berbagai perbudakan lain. Jika tidak
hati-hati, ia bisa diperbudak oleh berbagai ajaran tradisi dan filsafat manusia
yang menyesatkan. Seperti jemaat Galatia, mereka berada dalam bahaya untuk
dibawa kembali ke dalam perbudakan Hukum Taurat. Maka rasul Paulus dengan
serius menasihati mereka untuk tidak membiarkan diri kembali diperbudak,
sebaliknya mempertahankan kemerdekaan mereka dalam Kristus (Gal. 5:1). Mengapa?
Karena Orang Kristen adalah orang yang merdeka, sebab Yesus sudah mati di atas
kayu salib. Ia telah mengalami pengampunan Allah dan sudah dibebaskan dari
segala tuntutan dan ancaman Hukum Taurat. Hal ini bukan berarti bahwa seseorang
dapat berbuat sesuka hatinya untuk memenuhi segala keinginannya sesuai kehendaknya
sendiri. Tidak!
Kemerdekaan orang Kristen bukanlah jalan untuk dapat
berbuat dosa melainkan kebebasan karena anugerah Allah untuk tidak berbuat
dosa. Kebebasan tanpa batas selalu mengakibatkan pelampiasan keinginan daging
(bd.Gal.5:15). Tetapi, Roh Kudus, Pribadi ilahi adalah mitra orang percaya yang
memungkinkan untuk mengalahkan keinginan daging. Oleh karena itu, betapa
perlunya hidup dikontrol atau dipimpin oleh Roh Kudus (Gal.5:16-26).
John Newton, penulis lagu Amazing Grace, memiliki
pengalaman hidup yang kelam sebagai seorang penjual budak, namun ia tidak
menyadari bahwa ia sendiri sebenarnya budak yang lebih menyedihkan. Ia
memperbudak sesamanya, namun ia sendiri adalah budak dosa. Ketika ia berjumpa
dengan Kristus, ia sangat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memerdekakannya
dari perbudakan dosa.
Ketika seseorang percaya kepada Yesus Kristus, ia telah
dimerdekakan dari perbudakan dosa dan hidup kepada Kristus yang telah
membelinya melalui penebusan-Nya di atas kayu salib supaya dibebaskan dari
perbudakan. Para penganut Yudaisme ingin membawa orang kristen ke dalam
perhambaan dengan macam perhambaan yang lain. Keselamatan berarti dibebaskan
dari perhambaan kepada dosa dan hukum taurat ke dalam kebebasan kasih karunia
Allah dengan perantaraan Kristus.
Apabila seseorang tetap hendak memenuhi Hukum Taurat,
maka ia akan terus menerus mengalami perhambaan, mengalami sengsara yang terus
menerus, bahkan menjadi hamba dosa, hamba dari murka Allah. “Bukankah Kristus telah menebus kita dari
kutuk Taurat dengan jalan menjadi kutuk bagi kita” Yesus Kristus membuat itu,
supaya di dalam Dia, berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga
oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Gal. 3:13-14).
KESIMPULAN:
Setelah
seseorang dimerdekakan dari dosa, ia harus hidup sebagai orang merdeka, jangan
lagi hidup sebagai hamba dosa. Tujuannya adalah untuk membebaskan umat manusia
dari belenggu dosa. Yesus datang untuk membebaskan manusia semua dari kutuk
itu. Tidaklah cukup hanya percaya kepada Yesus, tetapi seseorang harus tahu
bahwa kebenaran itu ada di dalam Yesus Kristus yang dapat memerdekakannya.
Tidak semua orang yang mendengarkan perkataan Yesus mau
menerima, tetapi mereka yang mau menerima adalah murid yang baik. Mereka yang
tidak mau menerima perkataan Yesus mengatakan bahwa mereka belum pernah menjadi
hamba siapapun, padahal dulu mereka pernah menjadi hamba dosa. Setiap orang
yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Kemerdekaan yang sebenarnya adalah setelah
manusia ditebus dari dosa. Manusia lama telah turut disalibkan supaya tubuh
dosa kehilangan kuasanya (Roma 6:6). Orang yang telah dimerdekakan dari dosa,
hiduplah sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar