Laman

Rabu, 30 Mei 2012

KEMERDEKAAN DI DALAM YESUS KRISTUS


Latar belakang dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia adalah kekecewaannya kepada mereka yang tadinya mengetahui kekuatan kuasa Kristus yang memerdekakan itu justru meninggalkannya dan jemaat Galatia mereka kembali diperhamba sebab mau hidup menurut Hukum Taurat yang  jelas tidak dapat memberikan kemerdekaan kepada mereka seperi kuasa Injil Yesus Kristus. Bukankah pengorbanan Kristus menggerakkan setiap orang keluar dari perhambaan masuk ke dalam kemerdekaan anak-anak Allah?
            Kekristenan sekarang ini juga banyak yang mengalami hal yang sama seperti kondisi pengajaran yang dialami oleh jemaat Galatia yakni; mereka mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh dengan melakukan Hukum Taurat atau dengan usahanya, dan meninggalkan kemerdekaan yang dikerjakan oleh pengorbanan Kristus dan kembali kepada perhambaan yang akan justru membinasakan orang yang mendatangkan murka Allah (Rom. 4:15). Oleh sebab itu, tujuan dari karya tulis ini untuk memberikan pemahaman yang tepat bagi orang percaya supaya mengerti kebenaran tentang “kemerdekaan di dalam Kristus,” sekaligus  untuk melengkapi tugas dan memenuhi persyaratan untuk mata kuliah eksegesis kitab Galatia.
            Apa yang akhirnya dimiliki oleh Hukum Taurat itu? Kutukan, sebab barangsiapa yang tidak dapat memenuhinya menjadi terkutuk. Menjadi dihukum. Janganlah hidup seakan-akan kematian Kristus kurang memiliki jasa yang cukup untuk membebaskan setiap orang dari dosa. Pekerjaan Kristus itu cukup untuk membebaskan manusia, untuk menyelamatkan manusia, Iman dalam Kristus membawa manusia kepada tempat perlindungan, itu pula membebaskan orang dari legalisme yaitu cara beriman yang mengandalkan kemampuan manusia memenuhi hukum Tuhan dengan kekuatan atau kehebatannya sendiri.
            Dalam surat Galatia, Paulus mengajarkan tentang kemerdekaan Kristen. Para penganut Yudaisme beranggapan bahwa doktrin Paulus tentang kasih karunia sangat berbahaya karena doktrinnya menggantikan Hukum Taurat. Jika segala peraturan dan standar dihapuskan, maka jemaat Tuhan akan berantakan. Tentu tidak demikian! Anugerah Allah pasti memberikan tanggung jawab! Seseorang yang hidup di dalam anugerah Allah seharusnya memiliki komitmen yang tinggi untuk lebih bertanggung jawab kepada Allah. Orang Kristen yang hidup dengan iman tidak akan menjadi pemberontak.
            Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata “merdeka” artinya bebas dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya; berdiri sendiri; tidak terikat; tidak bergantung pada sesuatu yang lain.[1] Jadi, kata “merdeka” adalah kata yang indah untuk didengar. Merdeka adalah pengharapan bagi semua orang. Tak seorangpun yang rela diperbudak oleh orang lain. Semua ingin menikmati kemerdekaan karena setiap orang pasti merindukan kemerdekaan.
A. Bebas Dari Hukum Taurat
            Keselamatan tidak pernah diperoleh dengan mentaati Hukum Taurat karena Hukum Taurat mendatangkan kutuk, bukan berkat. Galatia 3:10 ”Karena semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis:”Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat”. Jadi Hukum Taurat sama sekali tidak dapat membebaskan manusia. Surat Roma menjelaskan orang yang benar dan menyatakan bagaimana orang berdosa dapat dibenarkan di hadapan Allah, dan surat Galatia menyatakan bagaimana orang yang benar akan hidup, dan surat Ibrani membahas oleh iman.[2] Tidak seorang pun pernah dapat hidup oleh Hukum Taurat karena Hukum Taurat membinasakan dan menunjukkan kepada orang berdosa bahwa ia bersalah di hadapan Allah (Rom. 3:20; 7:7-11). Hukum Taurat berkata, “lakukan dan hiduplah!” tetapi kasih karunia berkata, “percayalah dan hiduplah!”
            Itulah sebabnya Paulus berbicara tentang Kemerdekaan atau Kebebasan yang menjadi milik setiap orang karena Iman atau Percaya dalam Kristus. Paulus sebagai orang Yahudi juga telah bukan hanya mematuhi Hukum Taurat tetapi juga Segenap Tafsiran Taurat itu,. Ia berjumpa dengan ratusan larangan dan perintah yang harus dipatuhinya. Ia terikat untuk mematuhi semuanya. Namun ketika ia bertemu dengan Kasih Karunia Allah adalam penjara. Kristus membebaskan manusia bagi Kebebasan atau Kemerdekaan, bukan bagi Penghukuman atau bagi Perhambaan. Manusia tidak dibenarkan karena pekerjaan-pekerjaan penurutan akan Taurat itu, tetapi melalui Iman dalam Kristus Yesus (Gal.2:16).”Kamu tahu bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” Keselamatan bukan mengganti satu macam perhambaan dengan macam perhambaan macam yang lain. Keselamatan berarti dibebaskan dari perhambaan kepada dosa dan Hukum Taurat ke dalam kebebasan kasih karunia Allah dengan perantaraan Kristus.
B. Bebas dari Hamba Dosa
            Hamba dapat diartikan sebagai orang yang terbelenggu atau tertekan oleh sesuatu. Setiap orang yang telah merdeka dari dosa adalah anak-anak Allah. Dalam Yohanes 8:29-32, Yesus pernah berkata kepada orang banyak bahwa Ia berasal dari Surga, bukan dari dunia ini.
            Setelah dosa diampuni saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus, ada kemungkinan ia jatuh ke dalam berbagai perbudakan lain. Jika tidak hati-hati, ia bisa diperbudak oleh berbagai ajaran tradisi dan filsafat manusia yang menyesatkan. Seperti jemaat Galatia, mereka berada dalam bahaya untuk dibawa kembali ke dalam perbudakan Hukum Taurat. Maka rasul Paulus dengan serius menasihati mereka untuk tidak membiarkan diri kembali diperbudak, sebaliknya mempertahankan kemerdekaan mereka dalam Kristus (Gal. 5:1). Mengapa? Karena Orang Kristen adalah orang yang merdeka, sebab Yesus sudah mati di atas kayu salib. Ia telah mengalami pengampunan Allah dan sudah dibebaskan dari segala tuntutan dan ancaman Hukum Taurat. Hal ini bukan berarti bahwa seseorang dapat berbuat sesuka hatinya untuk memenuhi segala keinginannya sesuai kehendaknya sendiri. Tidak!
            Kemerdekaan orang Kristen bukanlah jalan untuk dapat berbuat dosa melainkan kebebasan karena anugerah Allah untuk tidak berbuat dosa. Kebebasan tanpa batas selalu mengakibatkan pelampiasan keinginan daging (bd.Gal.5:15). Tetapi, Roh Kudus, Pribadi ilahi adalah mitra orang percaya yang memungkinkan untuk mengalahkan keinginan daging. Oleh karena itu, betapa perlunya hidup dikontrol atau dipimpin oleh Roh Kudus (Gal.5:16-26).
            John Newton, penulis lagu Amazing Grace, memiliki pengalaman hidup yang kelam sebagai seorang penjual budak, namun ia tidak menyadari bahwa ia sendiri sebenarnya budak yang lebih menyedihkan. Ia memperbudak sesamanya, namun ia sendiri adalah budak dosa. Ketika ia berjumpa dengan Kristus, ia sangat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memerdekakannya dari perbudakan dosa.
            Ketika seseorang percaya kepada Yesus Kristus, ia telah dimerdekakan dari perbudakan dosa dan hidup kepada Kristus yang telah membelinya melalui penebusan-Nya di atas kayu salib supaya dibebaskan dari perbudakan. Para penganut Yudaisme ingin membawa orang kristen ke dalam perhambaan dengan macam perhambaan yang lain. Keselamatan berarti dibebaskan dari perhambaan kepada dosa dan hukum taurat ke dalam kebebasan kasih karunia Allah dengan perantaraan Kristus.
            Apabila seseorang tetap hendak memenuhi Hukum Taurat, maka ia akan terus menerus mengalami perhambaan, mengalami sengsara yang terus menerus, bahkan menjadi hamba dosa, hamba dari murka Allah. “Bukankah Kristus telah menebus kita dari kutuk Taurat dengan jalan menjadi kutuk bagi kita” Yesus Kristus membuat itu, supaya di dalam Dia, berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Gal. 3:13-14).

KESIMPULAN: Setelah seseorang dimerdekakan dari dosa, ia harus hidup sebagai orang merdeka, jangan lagi hidup sebagai hamba dosa. Tujuannya adalah untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dosa. Yesus datang untuk membebaskan manusia semua dari kutuk itu. Tidaklah cukup hanya percaya kepada Yesus, tetapi seseorang harus tahu bahwa kebenaran itu ada di dalam Yesus Kristus yang dapat memerdekakannya.
            Tidak semua orang yang mendengarkan perkataan Yesus mau menerima, tetapi mereka yang mau menerima adalah murid yang baik. Mereka yang tidak mau menerima perkataan Yesus mengatakan bahwa mereka belum pernah menjadi hamba siapapun, padahal dulu mereka pernah menjadi hamba dosa. Setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Kemerdekaan yang sebenarnya adalah setelah manusia ditebus dari dosa. Manusia lama telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kehilangan kuasanya (Roma 6:6). Orang yang telah dimerdekakan dari dosa, hiduplah sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya.


[1] Drs. Tri Rama K., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya; Karya Agung), “Merdeka”
[2] Warren W. Wiersbe, Merdeka Di Dalam Kristus, (Bandung; Kalam Hidup,1975), hal. 66.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar