Laman

Selasa, 01 Mei 2012

AYAT-AYAT YANG DISALAH-TAFSIRKAN OLEH CALVINISME DALAM KITAB EFESUS



Surat Efesus merupakan surat yang menojol karena pernyataan yang menajubkan tentang tujuan abadi Allah dalam Kristus Yesus, yang dikerjakan Yesus Kristus dalam jemaat-Nya. Tujuan dari surat Rasul Paulus ini ialah Paulus mengetahui bahwa dimasa-masa yang akan datang sepeninggalnya akan muncul guru-guru palsu dan menyebarkan ajaran-ajaran palsu yang menyesatkan dan menarik para murid mengikuti mereka sehingga sangat merugikan jemaat Efesus. Hal ini juga terjadi peristiwa yang sama yang dialami oleh jemaat-jemaat Tuhan dimana banyak ajaran-ajaran yang tidak sesuai lagi dengan Firman Tuhan yakni; mereka mendirikan pengajaran mereka dengan kebenaran atau ajaran manusia bukan lagi berdasarkan kebenaran Firman Allah (Rom. 10:1-3).
            Dalam karya tulis ini, penulis membahas tentang ayat-ayat yang disalah-tafsirkan oleh Calvinisme khusus dalam surat Efesus. Hal ini sangatlah penting untuk dibahas mengenai ayat-ayat yang salah ditafsirkan oleh kelompok Calvinisme dan ini harus dimengerti oleh orang Kristen yang telah beriman kepada Kristus agar mereka tetap teguh dalam iman mereka. Tujuan penulis dalam karya tulis ini adalah untuk menyelidiki dan menjelaskan apa yang sesungguhnya Kitab Suci ajarkan tentang masalah ini, dan juga untuk memberikan pemahaman yang tepat bagi orang percaya supaya mengerti kebenaran tentang “ayat-ayat yang telah disalah tafsirkan oleh kaum Calvinisme.” 
            Surat Efesus merupakan salah satu dari antara keempat surat Rasul Paulus di dalam penjara di roma. Surat ini bertujuan untuk melengkapi orang-orang kudus di Efesus dalam doktrin atau pengajaran yang benar, supaya mereka tidak terhanyutkan oleh ajaran-ajaran guru-guru palsu, dan surat Rasul Paulus ini yang ditunjukkan pada jemaat di Efesus, ditunjukkan juga kepada orang-orang kudus pada jemaat-jemaat lokal agar tetap berdiri sesuai Firman Tuhan dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menyimpang dari Firman Tuhan secara umum dan secara khusus oleh pengajaran kaum Calvinisme.
            Pengajaran Calvinisme adalah sinyal yang salah yang menyesatkan manusia, dan menghancurkan gereja.[1] Calvinisme juga menjadi bahaya dan ancaman bagi gereja Tuhan karena,  John Calvin mengajarkan bahwa Allah dalam satu dekrit telah menetapkan segala sesuatu tanpa kecuali. Kalau Allah menetapkan segala sesuatu, maka berarti Ia menetapkan juga semua dosa yang pernah diperbuat, dan yang akan diperbuat. Ini berarti bahwa Allah-lah yang menetapkan agar Adam dan Hawa makan buah yang Ia larang. Dalam kitab Efesus ada berapa ayat yang diserang oleh kaum Calvinisme untuk membenarkan pengajaran mereka dan di bawah ini, penulis akan menguraikannya satu persatu.
A. Efesus 1:4-5
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”.
            Ayat ini merupakan salah satu ayat yang dipakai oleh Cavinisme dengan berkata bahwa Allah sudah menentukan manusia yang selamat dan juga manusia yang akan binasa. Predestinasi dalam pengajaran Calvinis merupakan bagian dari penetapan sejak semula. Penetapan sejak semula adalah rencana Allah untuk segala sesuatu yang terjadi, sedangkan predestinasi adalah bagian dari penetapan manusia untuk binasa dan untuk diselamatkan.
 John Gill berkata,
“Pendeknya, segala sesuatu tentang semua individu di dunia, yang pernah ada, yang ada, atau yang akan ada, semuanya sesuai dengan dekrit-dekrit Allah, dan menurut pada dekrit-dekrit itu lahirnya berbagai manusia ke dalam dunia, waktu terjadinya, semua hal-hal yang terjadi berhubungan dengan itu; semua peristiwa dan kejadian yang dialami manusia, sepanjang hidup mereka; tempat tinggal mereka, posisi mereka, panggilan hidup mereka, dan pekerjaan mereka; kondisi mereka berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kesulitan dan kemakmuran; kapan mereka akan meninggalkan dunia, dan semua hal yang berkaitan dengan itu; semuanya sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.”[2]

            Calvinisme mengajarkan bahwa penetapan sejak semula berarti rencana Allah yang berdaulat, yang dengannya Allah menetapkan semua yang akan terjadi diseluruh alam semesta ini. Dari pengajaran kaum Calvinisme ini dapat disimpulkan bahwa segala usaha dan kerajinan untuk memberitakan injil dimana-mana adalah sia-sia karena Allah telah menetapkan siapa yang selamat dan siapa yang akan binasa dari semula.
            Efesus 1:4-5, Dr. Suhento Liauw menafsirkan bahwa, ayat ini memberitahukan bahwa Allah telah memilih Kristus sejak kekekalan dan setiap orang di dalam Kristus akan termasuk dalam lingkup pemilihan.[3] Jika seseorang diperhitungkan untuk dipilih Allah dalam Kristus Yesus ialah ia harus bertobat dan percaya pada Yesus yang telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa seluruh dunia, dengan ia mengaminkan secara pribadi bahwa dosanya telah ditanggung oleh Yesus Kristus dan dia setuju untuk hidup bagi Kristus (Gal. 2:19-20).
            Dalam pengajaran Calvinisme ini tidak ada kehendak bebas manusia karena Allah telah lebih dulu menentukan. Dengan kata lain manusia tidak lebih dari robot, yang melakukan ketetapan Allah. Kejatuhan manusia pertama dalam dosa itu merupakan rencana Allah bagi manusia jadi dosa yang mereka lakukan itu merupakan tanggung jawab Allah bukan manusia.
B. Efesus 2:1
“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”.
            Ayat ini merupakan ayat pendukung Calvinis dalam poin T (Total Depravity) yang mengajarkan bahwa manusia telah mati secara rohani karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya tidak mampu merespon terhadap injil walaupun dapat membuat pilihan-pilihan moral lainnya. Edwin H. Palmer mengatakan bahwa, kerusakan total bukan berarti ia tidak dapat menjadi lebih jahat lagi, melainkan bahwa tidak ada satupun perbuatannya yang baik. Kejahatan meresapi setiap kemampuan jiwanya dan setiap bidang kehidupannya. Ia tidak mampu melakukan satu pun hal yang baik.[4]
Poin total Depravity ini mengajarkan bahwa:
1. Manusia sangat jahat sehingga tidak bisa lagi hidup dengan rukun dan hidup semata-mata untuk merusak kehidupan manusia lain.
2. Kehendak bebas manusia menjadi hilang sehingga menjadi robot.
3. Tidak ada standar objektif dalam kebaikan, kebenaran dan kesucian.
4. Manusia tidak dapat menghargai atau menghormati yang baik dan benar sehingga manusia mencapai kebejatan total.   
            Total Depravity berarti kejatuhan dalam segala segi kehidupan manusia baik dalam tubuh, akal budi, kehendak, hati nurani dan perasaan sehingga tidak mampu memenuhi standar kebaikan dan kebenaran dari Pencipta. Total Depravity berhubungan erat dengan dosa dan efeknya. Dosa telah mencemari seluruh bagian kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun. ( Roma 3:11). Total Depravity berarti manusia telah mati oleh karena pelanggaran-pelanggaran manusia terhadap Tuhan.
            Manusia bukan sekedar jadi mayat hidup, tetapi telah menjadi mayat. Manusia tidak dapat mencari penyelamatan bagi dirinya sendiri. Semua rencana penyelamatan dimulai dan diakhiri oleh Pencipta. Tidak ada bagian dari manusia yang dapat mengambil bagian dalam rencana penyelamatan ini. Inilah implikasi dari Total Depravity. 
            Efesus 2:1, ayat ini tidak mengajarkan bahwa manusia tidak bisa berbuat baik atau tidak memiliki kehendak bebas, tetapi ayat ini mengajarkan bahwa manusia Tidak Dapat mencari Tuhan karena perbuatan manusia hanya melakukan kejahatan di mata TUHAN (Rom. 3:10-11;7:18; Maz. 14:2-3; Peng. 9:3), sehingga manusia tidak dapat datang kepada Bapa dan Yesus untuk diselamatkan (Yoh. 6:37,44,65). Karena manusia telah mati, maka manusia harus dilahirkan kembali supaya bisa hidup dalam Kristus sebagai penggenapan rencana Keselamatan Allah (Fil. 1:29; Kis. 11:18). Karena manusia telah bobrok secara moral, akal budi, kehendak, maka tidak ada satupun perbuatan manusia berkenan kepada Tuhan. Dalam konteks yang sama orang percaya adalah mati secara rohani sebelumnya. Alkitab tidak mengatakan bahwa jiwanya secara rohani netral, sakit atau terluka tetapi menggunakan kata mati karena dosa.
C. Efesus 2:8-9
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
            Ayat di atas merupakan ayat yang sering digunakan atau dipakai oleh kaum Calvinisme dalam poin Irresistible Grace (anugerah yang tidak bisa ditolak). Edwin H. Palmer mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan tidak dapat ditolak (Irresistible) ialah bila Allah telah memilih orang-orang untuk diselamatkan dan bila Ia memberikan Roh Kudus untuk mengubah mereka dari orang-orang yang penuh kebencian menjadi orang-orang yang penuh kasih, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahan-Nya.[5]
            Dari poin Irresistible Calvinisme ini mengajarkan manusia tidak memiliki kehendak bebas untuk menolak anugrah Allah. Calvinisme percaya bahwa manusia yang yang belum menjadi Kristen tidak memiliki kebebasan untuk menolak anugrah Allah, dan sesudah diselamatkan mereka lebih tidak memiliki kehendak bebas lagi.
            Poin Irresistible Calvinisme ini merupakan pernyataan yang jelas salah dan bertentangan dengan ajaran yang ada dalam Alkitab dimana banyak ayat yang menjarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas yakni; manusia dapat menerima anugerah dan dapat juga menolaknya. “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku" (Luk. 10:16). Ini adalah salah satu ayat yang mengajarkan kehendak bebas manusia untuk menolak dan menerima, dan ayat ini sangat bertentangan dengan pengajaran Calvinisme dimana manusia tidak dapat menolak anugerah Allah atau manusia tidak memilki kehendak bebas, dan masih banyak ayat-ayat yang mengajarkan manusia memilki kehendak bebas atau manusia dapat menerima anugerah dan juga dapat menolak (Yoh. 16:1; Kis. 3:14; I Tes. 4:8; Ibr.12:25).
Kesimpulan: Dari penguraian tentang ayat-ayat yang telah disalah tafsirkan oleh Calvinisme dalam kitab Efesus dimana mereka mengajarkan bahwa Allah sudah menentukan manusia yang dibinasakan dan juga manusia yang akan diselamatkan, manusia telah mati secara rohani karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya tidak mampu merespon terhadap injil walaupun dapat membuat pilihan-pilihan moral lainnya, dan mengajarkan manusia tidak memiliki kehendak bebas untuk menolak anugrah Allah. Dari penguraian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengajaran Calvinisme ini merupakan ajaran yang bertentangan sekali dengan ajaran dalam Alkitab.
            Calvinsme mengajarkan Allah menciptakan manusia seperti robot dimana manusia tidak memiliki kehendak bebas, mereka terpaku pada sifat kedaulan Allah tanpa mereka mengerti bahwa Allah telah menciptakan malaikat dan manusia yang diberi kemampuan berpikir dan kehendak bebas.


[1] Dr. Suhento Liauw, Pedang Roh, (Jakarta; Gits, 2009), hal. 8.
[2] Dr. Steve E. Liauw, Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia yang Alkitabiah, (Jakarta; www.graphe.ministry-org), hal.3.
[3] Suhento Liauw, Doktrin Keselamatan Alkitabiah, (Jakarta; Gits, 2007), hal. 195.
[4] Edwin H. Palmer, The Five Points Of Calvinism, (Surabaya; Momentum, 1972), hal. 2.
[5] Ibid, hal. 81.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar