Mujizat-mujizat
Kristus – tanda misi ilahi-Nya?
Muhammad ingin membawa
orang-orang Kristen di Semenanjung Arabia untuk menjadi Islam. Jadi ia
menyaksikan kepada mereka apa yang didengarnya tentang Yesus dari para budak
Kristen, dari utusan gerejagereja di Yaman Utara, dari para pengembara Etiopia,
dan dari sahabatsahabat Hanifnya, sekarang orang-orang Kristen. Muhammad
sangat terkesan dengan Putera Maryam dan segala mujizatnya. Ia menyadari bahwa
mujizat ini melebihi kuasa manusia dan karena itu ia menganggap hal itu sebagai
bukti (bayyinaat) dari otoritas keilahian-Nya (Surat al-Baqara
2:87, 253; al-Ma'ida 5:110; al-Zukhruf 43:63; al-Saff 61:6).
Muhammad menyebutkan sembilan
mujizat yang dilakukan Musa di Mesir, yang disebutnya juga sebagai bukti (Surat
al-Isra' 17:101; lihat juga Surat al-Baqara 2:92; al-Qasas 28:36; al-'Ankabut
29:39). Tetapi mujizat-mujizat yang dilakukan Musa adalah serangkaian hukuman
oleh Allah yang diturunkan kepada Mesir supaya mereka melepaskan anak-anak
Yakub yang mereka perbudak. Mujizat Yesus di dalam Al-Qur'an, justru, muncul secara
positif sebagai berkat-berkat dari Allah untuk membawa bangsa Israel percaya
dan taat kepada Isa. Muhammad memiliki kekurangan di dalam keadaan bahwa ia sendiri
tidak bisa melakukan mujizat, baik yang positif maupun yang negatif. Ia tidak bisa
memahami mengapa orang Yahudi begitu keras hati dan tidak mau menerima bukti
yang sangat nyata tentang Putera Maryam, dan justru menolak serta
membenci-Nya.
Bukti-bukti
mengenai Kristus (bayyinaat)
● Dalam Surat al-Baqara
kita membaca bahwa Isa tidak bisa melakukan mujizat tanpa pertolongan dari Rohulqudus
(Surat al-Baqara 2:87). Muhammad membayangkan bahwa Allah mengutus Jibril
(Gabriel) untuk menguatkan Putera Maryam supaya ia bisa melakukan
mujizat-mujizat besar. Muhammad mengatakan di dalam pernyataannya itu bahwa
Yesus tidak bisa melakukan mujizat sendiri. Untuk melakukannya Ia membutuhkan
pertolongan utusan Allah, yang disebutnya sebagai Rohul Kudus.
Nama itu sering secara salah
disamakan dengan “Roh Kudus.” Di dalam Al-Qur'an Allah sendirilah yang disebut
“Kudus”, dan roh itu hanyalah hamba-Nya. Roh dari Yang Kudus tidak kudus dari
dirinya sendiri dan tidak memiliki hakekat ilahi. Ia hanyalah ciptaan dari Yang
Mahakuasa. Roh di dalam Al-Qur'an ini jangan sampai disamakan dengan Roh Kudus
yang ada di dalam Alkitab, meskipun Muhammad menganggap bahwa roh dari yang Mahakudus
itu sama dengan Roh Kudus yang sesungguhnya yang menguatkan Putera Maryam. Jadi
Muhammad kelihatannya memiliki pengakuan secara tidak langsung akan kesatuan
dari Tritunggal yang Kudus, karena di dalam Al-Qur'an ketiganya – Allah,
Roh-Nya dan Kristus –bersama-sama menandakan mujizat!
Muhammad tidak bisa memahami mengapa
orang Yahudi selalu menolak bukti-bukti dari utusan-utusan Allah, dan bahkan
menyebut mereka sebagai pendusta dan bahkan membunuh beberapa di antara mereka
(Surat al- Baqara 2:87)!
● Dalam
Surat yang sama (al-Baqara 2:253), Muhammad mengakui bahwa ada perbedaaan-perbedaan
yang sangat mendasar di antara utusan-utusan Allah. Ia lebih menyukai yang
satu dibandingkan yang lain dan kemudian memberikan kepadanya kedudukan yang
lebih tinggi. Kepada Musa Ia berbicara secara langsung, yang tidak dilakukannya
kepada Muhammad.
Muhammad menerima
yang disebut sebagai wahyunya melalui suatu roh yang tidak dikenal, yang
kemudian disebut Jibril. Muhammad sendiri tidak pernah melihat Allah, atau
mendengar suara-Nya! Ia tidak memiliki kontak pribadi dengan Allah.
Menurut Al-Qur'an, Allah menempatkan
Putera Maryam dalam kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
Musa, karena Ia memberikan kepada Putera Maryam bukti-bukti khusus (bayyinaat)
dengan menguatkan dia dengan rohulqudus. Muhammad menggelengkan kepalanya atas pertentangan
yang keras antara orang Yahudi dengan orang Kristen dan atas perpecahan di
antara mereka meski memiliki hak yang sangat istimewa itu (Surat al-Baqara
2:253). Ia me-nganggap bahwa pertentangan sebagai penentuan yang
bijaksana dari Allah, yang membuat Islam sebagai kekuatan ketiga, akan muncul
sebagai pemenang atas kedua kelompok yang bertikai itu. Muhammad tidak
menyadari bahwa Anak Allah yang tersalib itu serta karya pembenaran atas
orang-orang berdosa, yang tidak didasarkan kepada perbuatan baik, adalah alasan
yang paling utama terjadinya pertentangan antara orang Yahudi dengan orang
Kristen. Orang Muslim dan orang Yahudi sebenarnya lebih memiliki kedekatan
kesamaan dibandingkan dengan orang Kristen dengan orang Muslim!
● Dalam Surat al-Ma'ida
kita membaca empat penjelasan yang diberikan Allah langsung kepada
Kristus di dalam Al-Qur'an (Surat al-Ma'ida 5:110). Ia me- ngatakan, “Ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan engkau dengan Ruhul Qudus.”
Kemudian diikuti dengan daftar beberapa mujizat yang dilakukan Kristus yang
kemudian berujung kepada penjelasan bahwa Allah menghalangi bangsa Israel
mendatangi
Isa, sehingga
mereka tidak bisa membunuh dia, meskipun ia datang kepada mereka dengan
bukti-bukti yang jelas (bayyinaat). Tetapi mereka membenci dia dan
mengatakan, “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata!”
Dalam ayat ini Kristus sekali lagi
muncul sebagai tokoh yang sudah diberi dan ditolong oleh roh Allah. Hal ini
membuktikan bahwa di dalam Al-Qur'an Putera Maryam tidak memiliki di dalam dirinya
hakekat atau kemampuan ilahi. Pada saat yang sama, bagaimanapun, Muhammad
mengakui tidak bisa ditirunya mujizat-mujizat Isa dan menyebut semuanya itu bukti
untuk kuasanya, yang diberikan oleh Allah. Muhammad tidak bisa memahami kerendahan
hati Kristus, ketika Ia menyangkal dirinya dan memberikan semua kehormatan
kepada Bapa, dan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak
dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa
mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”
(Yohanes 5:19).
● Dalam Surat al-Zukhruf
kita membaca sebuah penjelasan khas timur mengenai bukti yang dimiliki
Kristus (Surat al-Zukhruf 43:63): Ia datang kepada orang Yahudi dengan “hikmah”
untuk bisa membuka mata mereka kepada alasan dari kritik dan
ketidaksetujuan mereka semua. Mungkin Muhammad pernah mendengar pengajaran yang
diajarkan Yesus di dalam
Matius 7:1-28
melalui tradisi lisan, dan menjelaskan perkataan Kristus itu sebagai suatu
usaha untuk memperdamaikan kelompok-kelompok yang bertikai. De-ngan cara ini
Isa menuntut ketaatan tanpa syarat dan ketundukan mereka kepada
perintah-perintahnya.
● Menurut Surat al-Saff, Isa datang kepada bangsa Israel untuk membenarkan
bahwa Taurat tidaklah dipalsukan (Surat al-Saff 61:6). Ini adalah
penjelasan yang sangat khusus kepada kita tentang tujuan kedatangan Isa yang
memberikan kepada kita kesempatan untuk membuktikan kepada orang Muslim bahwa
Alkitab tidak dibelokkan, karena, menurut Al-Qur'an sendiri, tugas pertama
Kristus adalah membenarkan atau menegaskan ketidakbersalahan Taurat. Namun,
tujuan yang paling utama dari kedatangan Isa, maksud yang paling akhir dari
semua mujizatnya, menurut Al-Qur'an, adalah adanya suatu janji yang dinyatakan
oleh Pu-tera Maryam bahwa sesudah dia akan datang seorang utusan Allah
yang sangat terpuji. Dengan nubuat ini Muhammad menaruh peristiwa kedatangannya
sendiri ke bibir Isa! Sejak itu, orangorang Muslim sudah berusaha menyelidiki
Alkitab untuk menemukan nama Muhammad yang tersembunyi, yang secara
literal berarti “Dia yang Terpuji.” Beberapa penafsir Muslim mengajarkan bahwa
Muhammad adalah Parakletos yang dijanjikan, yaitu Roh Penghibur itu
sendiri. Untuk membuat kata dalam bahasa Yunani ini cocok de-ngan Muhammad,
Muslim mengubahkan huruf hidup dari kata Parakletos menjadi Periklytos,
yang berarti “Dia Yang Sangat Terhormat.” Sebagai akibatnya orang Muslim menuduh
orang Kristen sudah menutupi atau memalsukan nubuat dari Isa tentang Muhammad
di dalam Alkitab, atau bahkan menghapus namanya dari dalam Alkitab.
Tanda-tanda ajaib Isa dan
Muhammad ('aayaat)
Di dalam tiga
ayat Al-Qur'an mujizat-mujizat Yesus disebut sebagai tanda ('aayaat)
dari misi ilahinya (Surat Āl 'Imran 3:49.50; al-Ma'ida 5:114).
Kata yang dipakai Muhammad untuk hal ini juga bisa dilihat di dalam Injil Yohanes
untuk menyebut tentang mujizat-mujizat Yesus. Di sana kita bisa membaca, “Hal
itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang
pertama dari
tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya.” (Yohanes
2:11-12). Banyak orang percaya kepada nama-Nya ketika mereka melihat tanda-tanda
yang dilakukan-Nya (Yohanes 2:23). Ketika Ia menyembuhkan anak seorang
pegawai istana dari jauh, Yohanes menyebut hal itu juga sebagai tanda yang
dilakukan-Nya (Yohanes 4:54). Ketika mereka melihat tanda itu (memberi
makan 5000 orang), mereka mengatakan, “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan
datang ke dalam dunia.” (Yohanes 6:14). Namun, ketika Yesus melihat mereka
datang dengan bergegas untuk menjadikan diri-Nya sebagai raja, karena mujizat
roti itu, Ia meninggalkan mereka. Yesus tidak melakukan tanda-tanda mujizat-Nya
dengan tujuan supaya orang-orang akan percaya kepada-Nya, tetapi supaya mereka
mengenal kasih-Nya, kedaulatan-Nya dan kemahakuasaan ilahi-Nya. Yesus tidak ingin
orang mengikuti Dia karena mujizat-Nya, tetapi Ia menghendaki pertobatan dan
pembaharuan. Yesus memperingatkan orang-orang itu dengan mengatakan, “Jika
kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” (Yohanes 4:48). Di
dalam Injil kita membaca beberapa kali bahwa Yesus melarang mereka yang
disembuhkan-Nya untuk berbicara tentang Dia yang menyembuhkan mereka (Matius
9:30; Markusus 3:12; 5:43; 7:36; Lukas 5:14; 8:56; 9:21).
Ketika Yesus dianiaya dan diancam
kematian di Yerusalem, orang banyak yang hanya ingin melihat mujizat berbalik
dari pada-Nya. Hanya murid-muridNya, yang sudah mengakui dosa-dosa mereka di
hadapan Yohanes Pembaptis dan yang kesombongannya sudah diremukkan dengan pertobatan,
yang tetap setia kepada Yesus. Mereka melihat kemuliaanNya meskipun Ia sedang
dianiaya dan mati di Kayu Salib. Ketika orang Yahudi mencobai Yesus dan
menuntut tanda dari-Nya untuk membuktikan kedaulatan dan misi-Nya, Ia menjawab,
“Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya
kembali.!” (Yohanes 2:18-22). Dan kemudian Ia menambahkan, “Angkatan
yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak
akan diberikan
tanda selain
tanda nabi Yunus.” (Matius
12:39-40; 16:4)
Bukti-bukti dan tanda-tanda yang
disebutkan oleh Muhammad tentang Isa di dalam Al-Qur'an berusaha untuk
menciptakan suatu keyakinan yang sebenarnya ditolak sepenuhnya oleh Yesus!
Karena itu kita tidak boleh menjelaskan tanda-tanda yang dilakukan
Kristus kepada Muslim hanya karena semuanya itu bersifat mujizat, tetapi justru
harus menekankan
bahwa semuanya
itu hanya menunjuk kepada kebesaran, kasih, kerendahan hati, kekudusan dan
kedaulatan-Nya. Yesus Kristus sendiri yang harus dimuliakan di dalam
penyebutan akan mujizat-mujizat itu. Mujizat-mujizat itu bukanlah sesuatu yang
mulia karena dirinya sendiri. Semua penyembuhan yang ajaib yang tidak membawa
orang kepada pertobatan dan pembaharuan hidup bisa dikatakan gagal membangun
iman yang dalam kepada Yesus.
1. Kristus
berbicara ketika masih bayi yang baru lahir
Tiga kali kita menemukan tulisan di
dalam Al-Qur'an mengenai Putera Maryam yang berbicara ketika baru lahir, masih
ada di palungan. Kenyataan bahwa ia berbicara ditulis dua kali
(Surat Āl 'Imran 3:46; al-Ma'ida
5:110), isi dari pembicaraannya bisa dilihat secara terperinci di dalam Surat
Maryam (19:24-33). Kisah yang sangat tidak masuk akal mengenai Isa yang baru
lahir bisa berbicara secara sempurna, dijelaskan de-ngan cara yang berbeda oleh
para penafsir Al-Qur'an. Ada yang mengatakan, Isa hanya membutuhkan beberapa
menit, ada yang mengatakan beberapa jam, sampai ia bisa mengucapkan setiap kata
dan kalimat tanpa salah. Otaknya sudah berkembang secara penuh sejak ia lahir,
dan pengertiannya, perasaan dan kemampuan logikanya berkembang dalam waktu yang
sangat singkat, paling tidak itulah yang mereka katakan.
Mengapa para penafsir Muslim percaya
dan mendiskusikan fenomena yang demikian? Mereka membaca di dalam Al-Qur'an
bahwa Kristus adalah “firman Allah” yang menjadimanusia. Yang Mahakuasa
mengajarkan Taurat kepadanya, Amsal Salomo, Injil dan Kitab yang asli di surga,
sebelum ia lahir (Surat Āl 'Imran 3:48). Ia dilahirkan
ke dunia
dengan pengetahuan yang penuh, kepintaran dan kemampuan untuk berbicara. Ia harus
menyampaikan firman Allah senantiasa sejak ia lahir sampai ia mati. Ia
adalah seperti aliran wahyu yang dari Tuhannya. Al-Qur'an menegaskan kebenaran
bahwa Putera Maryam bukanlah manusia biasa, tetapi suatu roh dari Allah
yang menjadi manusia. Ia turun dari lingkungan yang dekat de-ngan Yang Maha
Kekal (perhatikan bagian akhir dari Surat Āl 'Imran 3:45) dan memiliki
pengetahuan yang besar dan kemampuan rohani yang melebihi semua makhluk
lainnya. Pernyataan-pernyataan spekulatif di dalam Al-Qur'an juga mendekati pemahaman
Kristen tentang inkarnasi Anak Allah di dalam Alkitab. Tetapi di dalam Alkitab
Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia yang sesungguhnya yang dibungkus dengan
kain lampin. Ibu-Nya yaitu Maria tidak pernah me-ngatakan kepada dokter Lukas
mengenai pembicaraan yang dikatakan oleh anaknya setelah Ia dilahirkan, karena
sebagai bayi Ia tidak bisa berbicara dan membutuhkan waktu untuk berkembang
(Lukas 2:40-52). `Dari mana asalnya
kisah khayalan ini? Di dalam kitab Injil Apokripa tentang masa kanak-kanak yang
ada di kalangan orang Kristen Syria dan Koptik, kita bisa menemukan petunjuk
untuk kisah yang demikian. Para ibu biasa menyanyikan lagu nina bobo yang
berisi tentang bayi Yesus untuk membuat anak-anak mereka tidur. Sumber dari
kisah tentang bayi Yesus bisa lebih jelas diketahui sekarang ini.
Muhammad mendengar kisah kanak-kanak
itu dari para budak Kristen dari Syria dan Koptik dan – mempercayai kisah itu!
Ia mempercayainya lebih daripada para Bapa Gereja, yang sama sekali tidak
pernah mencantumkan kisah do-ngeng itu ke dalam kanon Alkitab, karena memang
hal itu tidak pernah terjadi. Jadi Muhammad kelihatan seperti orang yang
sungguhsungguh mencari kebenaran, tetapi sama sekali bukan nabi. Ia tidak bisa membedakan
antara dongeng dengan kenyataan. Mengenai isi dari apa yang disebut sebagai
perkataan Pu-tera Maryam yang baru lahir itu (Surat Maryam 19:24-33), bayi itu
pertama-tama ingin memberikan penghiburan kepada ibunya yang masih muda yang
sudah mengandungnya tanpa menjalani pernikahan. Maria tahu bahwa dirinya bisa
dirajam dengan batu. Karena itu bayi Isa yang baru lahir menghiburnya dengan
berita bahwa ia baru saja melahirkan seseorang yang sangat menonjol di bawah
pohon palem di padang pasir. Dalam bahasa Arab, salah satu istilah untuk orang
yang luar biasa adalah suriyun, dengan
bentuk jamaknya surawaa’, asriyaa' atau saraat (semua berasal
dari kata dasar bahasa Arab S-R-W). Tetapi para pembaca Al-Qur'an yang
cemburu mengubahkan huruf vokal dari kata itu dan makna dari kata itu menjadi
“anak sungai kecil atau selokan” (yang dalam bahasa Arab adalah sariyun) kemudian
dengan menarik kata dasar S-R-Y membentuk kata bentuk jamak asriyat atau
suryaan. Para pembaca Muslim itu menjadi marah karena Isa sebagai bayi
yang baru lahir sudah memiliki tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan
Muhammad, jadi mereka langsung saja mengubahkan huruf vokalnya dan dengan itu
mengubahkan artinya juga dari ‘pribadi yang luar biasa’ menjadi ‘anak sungai’,
meskipun kemudian arti dari kalimat itu menjadi sangat tidak masuk akal.
Anak yang baru lahir itu kemudian
mengatakan kepada ibunya untuk menggoyang dahan pohon kurma dan membuat
buah-buah yang sudah matang berjatuhan di dekatnya, dan ia bisa menguatkan
dirinya setelah menderita sakit melahirkan. Betapa hal itu sangat tidak masuk
akal untuk orang-orang Bedouin. Beberapa laki-laki yang kuat belum tentu bisa menggoyang
sebuah pohon kurma. Bagaimana mungkin seorang ibu muda yang baru melahirkan
bisa melakukan hal ini? Pada jaman Muhammad kehidupan orang-orang Bedouin sangat
berat, dua kali lipat bagi kaum wanita dan kaum ibu. Di akhir dari
pembicaraannya yang pertama, Isa me-ngatakan kepada ibunya yang merasa
ketakutan bahwa Ia harus menjelaskan kepada semua orang yang akan menanyakan
kepadanya tentang asal-usul anak yang baru lahir itu: bahwa ia sudah berjanji
kepada Allah yang Maha Pengasih untuk berpuasa dan tidak akan berkata-kata
kepada siapapun hari itu. Jadi nasehat pertama, yang diberikan oleh Isa kepada
ibunya, adalah suatu tipuan, suatu kelicikan, dan suatu kebohongan, untuk
menyelamatkan dia dari bahaya yang mengancamnya.
Catatan selanjutnya menunjukkan
bagaimana bayi yang baru lahir itu membela ibunya dari kemarahan orang-orang
sedesanya dengan memperkenalkan dirinya sebagai nabi yang diberkati dalam permbicaraannya
yang kedua yang dicatat oleh Al-Qur'an. Orang-orang yang secara obyektif
memperhatikan kisah ini akan melihat bagaimana mimpi dan kenyataan bergabung
dan menjadi suatu fatamorgana di dalam pikiran Muhammad. Seluruh isi Al-Qur'an
berisi percampuran antara fiksi dengan kenyataan yang demikian.
2. Isa
menciptakan seekor burung
Dari sumber Apokripa yang sama
muncul kisah yang lain: Isa yang masih muda membuat bentuk burung dari tanah
liat, meniupnya, dan burung itu kemudian
terbang! (Surat Āl 'Imran 3:49; al-Ma'ida 5:110). Kita akan diarahkan
untuk melupakan kisah yang tidak realistis tentang Putera Maryam ini, tetapi
pada kenyataannya ada tiga penyebutan. Di
dalam Surat Āl 'Imran Isa mengatakan kepada bangsa Israel, “Aku akan menciptakan
bagimu serupa burung dari tanah liat.” Di dalam Surat al-Ma'ida, Allah,
sesudah kenaikan Isa menegaskan, “Engkau menciptakan seekor burung
dari tanah liat!” Mujizat ini disebutkan di dalam Al-Qur'an dalam bentuk
present tense dan past tense, sekali dikatakan oleh Isa dan sekali lagi
dikatakan oleh Allah sendiri. Penegasan yang dua kali ini membuat teks ini
menjadi penting.
Di kedua tempat itu kita melihat
bahwa Isa mampu menciptakan burung hidup dari bahan mati. Dalam bahasa
Arab, kata “mencipta” (khalaqa) yang biasanya dipakai hanya untuk Allah,
sang Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Tetapi kata yang
khusus ini dipakai untuk Isa juga. Ia adalah satu-satunya manusia, menurut
Al-Qur'an, yang menjadi pencipta dan bisa menciptakan sesuatu yang hidup
dari benda mati.
Kristus di dalam Islam ditunjukkan
sebagai pencipta juga. Muhammad, bagaimana pun, membatasi penghormatan kepada
Putera Maryam ini dengan kalimat, “Dengan ijin Allah!” beberapa kali di
dalam ayat-ayat Al-Qur'an mengenai mujizat-mujizat Kristus. Karena itu kita
bisa bertanya kepada orang Muslim yang kritis, “Apakah anda percaya bahwa
Kristus, dengan
ijin Allah, mampu menciptakan burung dari benda mati?” Jawabannya kemungkinan,
“Tentu saja. Al-Qur'an menegaskannya dua kali!” Kemudian kita bisa menjelaskan
kepadanya bahwa Putera Maryam adalah pencipta yang sangat unik – dengan
ijin Allah!
Kisah legenda masa kanak-kanak ini
mengandung kejutan yang lain. Isa mengangkat burung dari tanah liat ke mulutnya
dan kemudian meniupnya. Lalu burung dari tanah liat itu menjadi hidup dan
kemudian terbang. Menurut Al-Qur'an, Isa memiliki di dalam dirinya nafas
pemberi kehidupan – dengan ijin Allah, tentu saja! Di dalam Alkitab, Allah
menghembuskan “nafas hidup” kepada Adam. Dan kemudian manusia yang pertama
tercipta (Kejadian 2:7). Di malam Paskah Kristus menghembus kepada
murid-murid-Nya yang sedang ketakutan dan sekaligus penuh sukacita dan berkata
kepada mereka, “Terimalah Roh
Kudus!” (Yohanes 20:22).
Kemudian para pengikut-Nya dipulihkan, karena Kristus adalah pemberi roh yang
menghidupkan (1 Korintus 15:45). Muhammad, bagaimanapun, tidak masuk sampai
sejauh itu di dalam tulisannya. Ketika Isa meniupkan nafasnya ke benda mati,
benda itu tidak menjadi manusia, dan juga tidak dilahirkan kembali sebagai anak
Allah. Tetapi hanya menjadi sesuatu yang seperti seekor burung! Muhammad
tidak berani menyangkal bahwa Yesus sendiri memiliki roh pemberi kehidupan dari
sang pencipta.
Kisah tentang penciptaan burung ini
membuat sakit kepala para penafsir Al-Qur'an, karena kalau memang Isa bisa
menciptakan burung yang hidup dari benda mati, meskipun atas ijin Allah, itu
berarti ia jauh lebih tinggi dari semua manusia, bahkan lebih tinggi dari
Muhammad. Kemudian beberapa penafsir mengatakan, “Isa sebenarnya ingin menciptakan
seekor binatang berkaki empat atau seekor burung yang bisa terbang tetapi tidak
menjadi kedua-duanya. Yang kemudian jadi dari apa yang dibuatnya hanyalah seekor
‘kelelawar’ yang bukan termasuk burung dan bukan juga mammalia, tetapi pada
saat yang sama memiliki ciri kedua jenis itu.” Kita bisa menjawab untuk kritik
yang demikian, “Kelelawar adalah satu-satunya binatang terbang yang sudah
sangat berkembang, karena ia memiliki unit ultrasound (seperti radar) di dalam
mulutnya yang memungkinkan ia bisa terbang bahkan pada waktu malam, seperti
pesawat terbang di jaman modern!”
3. Kesembuhan
orang buta
Setelah dua kisah mujizat yang
meragukan yang dilakukan Isa waktu masih sangat muda, yang sebenarnya bukan
sepenuhnya karya Muhammad karena ia hanya mengambilnya dari tulisan apokripa
mengenai masa kanak-kanak Yesus; kita membaca tulisan tentang Kristus sendiri,
yang kebenarannya ditegaskan oleh Allah, bahwa Isa mampu menyembuhkan
beberapa orang buta (Surat Āl 'Imran 3:49; al-Ma'ida 5:110). Di dalam tulisan
ini kita bisa merasakan belas kasihan Kristus kepada orang-orang hina
yang tidak bisa melihat terang matahari dan berjalan di dalam kegelapan. Putera
Maryam, menurut Al-Qur'an, tidak melakukan mujizat untuk membuat para raja dan
penguasa tertarik kepadanya, tetapi karena ia ingin menolong orang yang sakit,
orang-orang yang sengsara dan terbuang dari masyarakat. Rasa iba dan kasihnya
yang membuatnya melakukan tanda-tanda yang demikian.
Kata dalam bahasa Arab untuk
“menyembuhkan” (bar’ia) berhubungan dengan makna “membenarkan” atau
“membasuh.” Kalau suatu penyakit dianggap sebagai penghukuman dari Allah untuk
dosa-dosa yang tersembunyi, maka Kristus tidak hanya menyembuhkan penyakitnya
tetapi juga berurusan dengan penyebabnya. Yesus tidak membuka mata orang buta
dengan pisau yang tajam atau dengan sinar laser. Ia juga tidak memakai obat
atau antibiotik, tetapi Ia menyembuhkan dengan perkataan-Nya saja. Ia
tidak menggunakan sulap, sihir atau roh-roh asing, tetapi Ia membebaskan
orang-orang yang menderita, yang sengsara dari dalam kegelapan dengan kuasa
perkataan-Nya semata-mata. Tentu saja Muhammad menambahkan juga kalimatyang
sangat khas,: “Dengan ijin Allah!” Akan tetapi, siapa saja bisa melihat kuasa
Yesus Kristus dan kasih-Nya kepada orang-orang yang terbuang di dalam kitab
orang Muslim.
Dari Al-Qur'an,
orang Muslim tidak bisa melihat secara terperinci tentang bagaimana, dimana,
kapan atau siapa yang matanya dibukakan oleh Yesus. Jadi ayat-ayat seperti itu
membutuhkan kesaksian dari para saksi mata yang melihatnya sendiri di dalam
Injil. Kita harus membuka Alkitab dibagian-bagian di atas untuk orang-orang
Muslim yang tertarik, tetapi jangan membacanya sendiri melainkan
doronglah mereka untuk membaca bagian itu sendiri, sehingga mereka bisa mengalahkan
rintangan yang ada dan menerima Roh Kudus di tangan mereka dan melihat Yesus
dengan mata hati mereka. Dengan itu mereka bisa me-ngakui bahwa Yesus tidak
pernah memaksa orang untuk menerima pertolongan atau kesembuhan dari-Nya, tetapi
menunggu sampai si sakit itu datang kepada-Nya atau berseru
meminta
pertolongan. Yesus ingin membangkitkan kehendak untuk disembuhkan di
dalam diri orang yang menderita itu, sampai mereka meminta kesembuhan.
Ia menumbuhkan di dalam diri mereka kepercayaan kepada-Nya dan kemahakuasaan-Nya,
sehingga Ia bisa membebaskan mereka dari beban mereka. Jarang sekali kesembuhan
terjadi kalau seseorang tidak percaya kepada tabib di antara semua tabib yang
ada. Kristus tidak memaksakan anugerah-Nya kepada siapapun, tetapi membangun di
dalam diri mereka kehendak, iman dan kasih akan Dia, yaitu Sang Penebus mereka.
Yesus menunjukkan bagian dari orang itu di dalam kesembuhannya, ketika
mengatakan, “imanmu telah menyembuhkan engkau.” (Matius 9:22;
Markusus 5:34; 10:52; Lukas 7:50; 8:48; 17:19; 18:42). Semua ini asing bagi
orang Muslim. Ia tidak tahu tentang Juruselamat atau penolong. Kepercayaan
kepada Kristus, Penebusnya, haruslah dipupuk, sehingga hal itu bisa bertumbuh
di dalam kehidupan rohaninya.
4. Isa
mentahirkan orang kusta
Dalam dua bagian Al-Qur'an ditulis
mengenai pentahiran dan penyembuhan orang-orang kusta. Kesaksian Isa dan Allah
sekali lagi menegaskan adanya mujizat-mujizat
itu (Surat Āl 'Imran 3:49; al-Ma'ida 5:110). Bentuk dalam bahasa Arab untuk
penyembuhan bagi orang kusta ada dalam bentuk tunggal, tetapi memiliki makna
kolektif, yaitu untuk menunjuk kepada beberapa orang yang menderita sakit
demikian. Sebagaimana dengan orang buta, hal ini tidak menunjuk kepada satu
mujizat saja, tetapi serangkaian penyembuhan ajaib yang dilakukan
Kristus terhadap orangorang kusta.
Kalau anda pernah bertemu dengan
orang-orang yang menderita seperti ini di India, dengan jari yang hilang atau
wajah yang rusak, yang secara bersama-sama mengemis di stasiun-stasiun, anda
akan memahami betapa besar kasih Yesus, keagunan-Nya dan kemenangan-Nya atas
rasa jijik dan takut terinfeksi. Ia tidak mengusir orang-orang kusta itu
sebagai orangorang yang najis, tetapi berbicara kepada mereka dan bahkan
menyentuh beberapa di antara mereka. Ia membangun jembatan bagi iman mereka, sehingga
mereka bisa mengerti: Yesus ini mengasihi saya secara pribadi!
Kristus lebih kuat dibandingkan
dengan kusta! Ia bisa dan akan menyembuhkan saya (Matius 8:1-4; Markus
1:40-45; Lukas 5:12-16). Ketika Yesus menyembuhkan kesepuluh orang kusta, Ia
menginginkan agar mereka memiliki iman yang melebihi manusia biasa. Mereka
percaya kepada Dia yang berbicara kepada mereka dengan kasih Tuhan yang
mereka rasakan
di dalam Dia ( Lukas 17:11-19). Yang ditulis di dalam Al-Qur'an hanyalah
kenyataan umum yang memerlukan penerangan dari Injil dan tambahan kesaksian
kita: bahwa Ia sudah mentahirkan kita dari segala kelemahan dan
kecemaran kita. Kepada peristiwa kesembuhan bagi orang kusta bisa ditambahkan
juga pengampunan yang diberikan Yesus. Di bebe-rapa negara, dalam keyakinan
Islam secara umum, kusta sering dianggap sebagai penghukuman Allah untuk
pemberontakan atau dosa-dosa yang tersembunyi. Di sini beberapa catatan Alkitab
mengenai kesembuhan dari kusta bisa sangat menolong. Ia mengharapkan kata-kata
“kesembuhan” dari Yesus, tetapi justru ia mendengar, “Perca-yalah, hai
anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Ketika para ahli Taurat berpikir
bahwa Yesus menghujat, Ia mene-ngok ke arah mereka dan berkata, “Mengapa
kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah,
mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni
dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah,
angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Matius 9:1-8)
5. Membangkitkan
orang mati
Kalau anda membaca kalimat singkat
yang ditegaskan sampai dua kali di dalam Al-Qur'an bahwa Yesus bisa
membangkitkan orang mati, mungkin anda akan sangat terkejut (Surat Āl 'Imran 3:49; al-Ma'ida 5:110). Di dalam dua ayat ini
anda akan menemukan kata dalam bentuk jamak, bukan dalam bentuk tunggal! Dalam
bahasa Arab itu berarti bahwa Kristus membangkitkan lebih dari dua orang, atau
paling tidak tiga orang dari kematian. Sangat dianjurkan untuk menghafal
bagian-bagian di dalam Injil dimana Yesus membangkitkan seorang anak, seorang
pemuda dan seorang dewasa dari kematian, dan untuk membaca bagian-bagian itu bersama-sama
dengan orang Muslim yang tertarik (Matius 9:18-26; Markus 5:21-43; Lukas
7:11-17; Lukas 8:40-56; Yohanes 11:1-45).
Al-Qur'an menggunakan dua istilah
yang berbeda untuk peristiwa Kristus membangkitkan orang mati. Di dalam surat Āl 'Imran (Surat Āl 'Imran 3:49) ia mengatakan,
"aku menghidupkan
orang mati."
وَرَسُولا إِلَى بَنِي
إِسْرَائِیلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآیَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ
مِنَ الطِّینِ كَهَیْئَةِ الطَّیْرِ فَأَنْفُخُ فِیهِ فَیَكُونُ طَیْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ
وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ وَأُحْیِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ
بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُیُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآیَةً لَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِینَ
Di ayat yang
lain (Surat al-Ma'ida 5:110) Allah menegaskan,
"engkau
mengeluarkan orang mati (menjadi hidup)!"
إِذْ قَالَ اللَّهُ
یَا عِیسَى ابْنَ مَرْیَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَیْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَیَّدْتُكَ
بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِیلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّینِ كَهَیْئَةِ
الطَّیْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِیهَ ا فَتَكُونُ طَیْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأكْمَهَ
وَالأبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي
إِسْرَائِیلَ عَنْكَ إِ ذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَیِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِینَ كَفَرُوا
مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِینٌ
Kalau anda
mengenal orang Muslim yang sudah menunjukkan ketertarikan kepada Kristus, anda
bisa bertanya kepadanya berdasarkan dua kesaksian di dalam Al-Qur'an itu,
“Siapakah yang bisa membangkitkan orang mati?” Yang paling sering, jawabannya
adalah, “Tidak ada selain Allah.” Tetapi kalau anda bertanya, “Apakah anda
mengatakan kalau Kristus itu Allah, karena Ia sudah menghidupkan kembali paling
tidak tiga orang yang sudah mati?” mungkin anda mendengar penolakan yang sangat
keras, “Aku berlindung kepada Allah dari orang-orang seperti anda!” Kalau anda
meneruskan dengan bertanya, “Tetapi di dalam Al-Qur'an anda menemukan dua ayat
dimana Kristus memang membangkitkan orang mati,” mungkin anda akan mende-ngar
jawaban setelah ia berpikir cukup lama, “Tetapi di setiap peristiwa anda akan
menemukan tulisan, “Dengan ijin- Ku”! Kristus sendiri tidak bisa membangkitkan
orang yang sudah mati. Karena itu Allah mengutus Jibril untuk menguatkan dia,
sehingga ia bisa melakukan tanda-tanda ajaib membangkitkan orang mati untuk
kemuliaan bagi Allah!” Kalau anda bertanya dengan hati-hati, “Jadi anda percaya
bahwa Allah dan Rohul kudus dan Putera Maryam bersama-sama bisa
membangkitkan orang mati?” Mungkin anda akan mendengar jawaban yang ragu-ragu,
“Ya, itu dituliskan di dalam Al-Qur'an.” Kemudian anda bisa berkata, “Jadi anda
percaya kepada kerjasama Tritunggal?” Hal ini bisa jadi, setelah beberapa penyangkalan,
membawa kepada pernyataan bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat penegasan akan kesatuan
Tritunggal di dalam tindakan, meskipun hal itu tidak menegaskan keberadaan
di dalam roh dan hakekatnya. Memang tidak selalu menjadi keharusan bahwa orang
Muslim akan diyakinkan dengan semua argumentasi kita. Tetapi akan sangat
menolong bagi dia untuk mendengar ide-ide baru yang juga ditegaskan
kebenarannya oleh Al-Qur'an, sehingga ia bisa mulai berpikir dengan cara yang
berbeda.
Kenyataan adanya orang mati yang
dibangkitkan oleh Putera Maryam adalah sesuatu yang sangat menakjubkan
sampai-sampai mungkin anda sendiri bertanya, mengapa di dalam Al-Qur'an
Muhammad menuliskan kesaksian yang didengarnya dari orang-orang Kristen yang
ada di sekitar dia. Mungkin ia melakukannya untuk menunjukkan Islam sebagai
agama yang mirip dengan kekristenan untuk bisa membawa orang-orang Kristen
kepada iman miliknya. Kita percaya bahwa kesaksian tentang kemenangan atas maut
di dalam Al-Qur'an akan menjadi seperti ragi, dan akan membuka mata orang
Muslim dari dalam, sehingga mereka bisa mengenal Kristus yang sesungguhnya yang
memiliki kehidupan kekal di dalam diri-Nya. Kemudian mereka akan memahami bahwa
Kristus bisa memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang meminta
kepada-Nya. Kenyataan bahwa Kristus membangkitkan orang mati menjadi tantangan
bagi semua anak-anak Abraham, termasuk orang Yahudi maupun orang Muslim: “Barangsiapa
percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat
kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup.” (Yohanes 3:36; 1Yohanes 5:12)
6. Yang Mahatahu
Dalam surat Āl 'Imran
kita menemukan ayat yang cukup menarik dimana Isa mengatakan kepada orang
Yahudi bahwa ia akan menunjukkan kepada mereka apa yang sudah mereka makan
secara sembunyi-sembunyi dan harta apa yang mereka sembunyikan di dalam lemari
mereka. Kisah yang tidak mungkin ini bisa memiliki banyak penjelasan: banyak
orang Yahudi
tidak secara tepat mematuhi hukum Musa, dan sering memakan apa yang dilarang
secara sembunyi-sembunyi. Yang lainnya tidak berpuasa dengan benar di hari-hari
yang ditentukan dan secara sembunyi-sembunyi makan di rumah mereka setiap kali
mereka menginginkannya.
Sebagai tambahan mereka menyimpan
harta mereka di lemari dan bukannya membagikannya untuk orang-orang miskin dan
para pengungsi dari Mekah. Al-Suyuti, seorang penafsir Islam, menjelaskan bahwa
Isa sebagai seorang anak sedang bermain-main dengan anak-anak yang lainnya
ketika ia berkata kepada mereka, “Saya bisa mengetahui apa yang dimakan oleh
orang tuamu ketika kamu tidak di rumah, dan apa yang secara rahasia mereka simpan
di dalam lemari yang tersembunyi darimu.” Ketika anak-anak itu bertanya tentang
pernyataan itu, orang tua mereka sangat terkejut dan bertanya kepada anak-anak
mereka, “Siapa yang memberitahukan rahasia itu kepadamu?” Ketika anak-anak itu
mengatakan bahwa Isa yang menjelaskan rahasia itu kepada mereka, para orang tua
itu kemudian melarang anak-anak mereka bermain bersama dengan Putera Maryam dan
mengunci mereka di halaman belakang rumah mereka.
Ketika Isa kemudian bertanya kepada
para orang tua teman-temannya mengapa ia tidak bisa bertemu lagi dengan mereka,
Ia diberitahu bahwa teman-temannya saat itu sedang tidak ada di rumah. Ketika
Isa mengatakan kepada para orang tua itu, “Tetapi aku bisa mendengar mereka
ribut di halaman belakangmu.” Mereka mengatakan kepadanya, “Itu hanya babi kami
yang sedang kelaparan.” Kemudian Isa dengan sedih memandang mereka dan berkata,
“Kamu benar! Hanya babi-babimu yang bisa membuat keributan yang demikian di
halaman belakangmu.” Ketika para orang tua itu mencari anak-anak mereka,
kata-kata Isa sudah menjadi kenyataan. Semua anak-anak mereka sudah menjadi
babi! Kisah yang sangat keji ini berasal dari imajinasi yang penuh fitnah
terhadap orang-orang Yahudi yang tidak pernah memelihara babi di halaman
belakang mereka, dan juga terhadap Yesus sendiri, yaitu untuk menjauhkan anak-anak
darinya, karena ia bisa menyatakan kebenaran yang tersembunyi. Namun, teks dari
Al-Qur'an ini menegaskan kebenaran bahwa Kristus bisa melihat menembus dinding
sekalipun! Menurut Muhammad, ia memiliki “mata sinar X”. Di dalam Injil Yohanes
kita bisa membaca bahwa Yesus melihat apa yang ada di dalam diri manusia. Ia
tidak membutuhkan pemberitahuan tentang siapapun, “sebab Ia tahu apa yang
ada di dalam hati manusia.” (Yohanes 2:24-25).
Di dalam ayat ini Al-Qur'an
membuktikan kemahatahuan Isa, tetapi menarik kesimpulan yang salah akan
hal itu. Bukan makanan yang dimakan secara rahasia, atau harta yang tersembunyi
yang Yesus lihat dengan mata Penebus-Nya. Ia menyingkap dosa-dosa yang tersembunyi
dan me-ngenal kerinduan seseorang akan keadilan, kesucian dan kebenaran. Ia
ingin menyelamatkan, menyucikan dan memperbaharui semua orang, dan tidak ingin mengambil
bagian di dalam kekayaan mereka. Muhammad menderita karena meningkatnya ketegangan
antara para pengungsi yang datang bersamanya dari Mekah dan para penduduk asli
di Medinah. Para pendatang dari Mekah tidak bisa menemukan pekerjaan, mereka tidak
memiliki rumah dan tidak memperoleh apapun dari saudarasaudara mereka. Di lain
pihak, orang-orang Muslim yang asli dari Medinah semakin hari menjadi semakin
kaya dan semakin kaya. Mereka sudah menampung para pendatang itu ke rumah
mereka dan sudah berjanji untuk mengurus mereka seperti saudara kandung. Tetapi
harapan dan kenyataan jauh sekali bedanya. Para penduduk asli makan makanan
yang lebih baik ketika para pendatang itu sedang tidak ada di rumah mereka, dan
para pemilik rumah menyembunyikan kekayaan mereka dari mata para pencari suaka
itu. Muhammad mendengar tentang perilaku ini dan ingin ikut campur tangan
mengambil bagian dalam harta mereka yang disembunyikan. Karena itu ia
mengatakan, “Kalau Isa datang kembali ia akan mengatakan kepadamu apa
yang kamu makan secara rahasia dan apa yang kamu sembunyikan di rumahmu, karena
ia bisa melihat semua yang ada di dalam dirimu. "
Kita perlu merenungkan kesaksian
dari Al-Qur'an ini ketika memberikan nasehat rohani kepada orang Muslim, dan
membuat mereka menyadari bahwa kita semua perlu diuji dan diungkap sepenuhnya
oleh kasih Yesus Kristus dan oleh kebenaran ini berulang-ulang kali! Uang dan
harta milik semua orang Kristen yang disembunyikan akan cukup untuk menginjili
seluruh dunia, kalau orang-orang itu bersedia untuk membagi sebagian dari harta
mereka itu.
7. Hidangan dari
surga
Di dalam Surat al-Ma'ida (5:112-115)
kita bisa menemukan semacam thema dari kisah Kristus memberi makan 5.000 orang
dalam pandangan Islam. Kita akan menerjemahkan teks ini secara literal,
sehingga cara berpikir Muhammad dan sikap orang-orang Muslim bisa dipahami
sebagai dasar untuk percakapan kita dengan mereka:
112 Para
hawariryin (murid) berkata, “Hai Isa Putra Maryam sanggupkah Tuhanmu menurunkan
hida-ngan dari langit kepada kami?” Dia menjawab, "Bertaqwalah kepada
Allah jika kamu benar-benar orang mukmin!"
إِذْ قَالَ الْحَوَارِیُّونَ
یَا عِیسَى ابْنَ مَرْیَمَ هَلْ یَسْتَطِیعُ رَبُّكَ أَنْ یُنَزِّلَ عَلَیْنَا مَائِدَةً
مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِینَ
113 Mereka
berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu, dan supaya hati kami tenteram dan
supaya kami mengetahui bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan kami
menjadi saksi atas hidangan itu."
قَالُوا نُرِیدُ أَنْ
نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ
عَلَیْهَا مِنَ الشَّاهِدِینَ
114 Isa Putera
Maryam berkata, “Allahumma (Elohim), turunkanlah kepada kami hidangan dari
langit yang akan jadi hari raya bagi kami dan bagi orang-orang yang bersama
kami serta yang datang sesudah kami, dan sebagai tanda (kebenaran) dari Engkau!
Dan berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baiknya Pemberi rezeki.”
قَالَ عِیسَى ابْنُ
مَرْیَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَیْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ
لَنَا عِیدًا لأوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآیَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَیرُ الرَّازِقِینَ
115 Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kamu. Maka
barangsiapa yang ingkar di antara kamu sesudah itu sesungguhnya Aku akan
menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun di
antara umat manusia!”
قَالَ اللَّهُ إِنِّي
مُنَزِّلُهَا عَلَیْكُمْ فَمَنْ یَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا
لا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِینَ
Dalam kisah
imajinatif tentang pemberian makan kepada 5,000 orang ini kita bisa memberikan
penjelasan demikian:
Beberapa kali Muhammad membuat pembedaan
di antara orang-orang Kristen
berdasarkan kedewasaan mereka dan menyebut mereka sebagai hawariyin atau murid
(para pemula), penolong yang giat atau pejuang, orang percaya yang berdoa,
Muslim, pengikut dan saksi (Āl 'Imran 3:52-53). Di
dalam kisah hidangan dari surga, Isa berbicara kepada para hawariyin atau
murid sebagai para pemula.
Di dalam Al-Qur'an, Isa sendiri tidak
pernah disebut sebagai “Tuhan”, tetapi Allah adalah Tuhannya. Isa selalu
disebut sebagai alat saja.
Setelah Isa memberikan khotbah yang
panjang di padang pasir para muridnya menjadi lapar. Mereka tidak sabar
menunggu sampai Isa menyediakan makanan bagi mereka, tetapi justru ‘mencobai’
dia dan mempertanyakan kemahakuasaan Allah, mungkinkah ia bisa
memiliki kemampuan menolong mereka. Mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada
kasih keperduliannya tanpa keinginan untuk mencobai dia.
Isa tidak menantang para muridnya untuk
percaya, tetapi untuk takut kepada Allah. Kasih Allah dan kepercayaan kepada
perhatiannya bukanlah topik yang utama di dalam Islam, dan hanya ketundukan
penuh kepada Allah dan ketakutan dengan rasa hormat yang mendalam kepadanya.
Orang-orang Muslim tidak memiliki
jaminan akan adanya penebusan dan tidak memiliki damai di dalam hati karena
mereka tidak memiliki Roh Kudus di dalam agama ini. Rohulkudus dianggap sebagai
Jibril (Gabriel), sehingga orang-orang Muslim sering berusaha menyelidiki bukti
yang pokok untuk iman mereka. Mereka ingin menjadi saksi mata untuk
hidangan itu, bukan untuk karya yang dilakukan Isa. Hidangan dan apa yang ada
di dalamnya adalah pusat dari pengharapan mereka.
Anehnya, Putera Maryam tidak berdoa
kepada Allah, tetapi kepada Allahuma (Elohim). Nama ini bagi Muhammad
merupakan kunci bagi doa-doa yang sangat efektif sehingga doa bisa dijawab
secepatnya. Elohim adalah bentuk jamak dari kata Allah dan mengandung
kemungkinan adanya Kesatuan Tritunggal yang Kudus. Di dalam Al-Qur'an, Isa
menyebut
Allah dari
Perjanjian Lama “YAHWEH Elohim (Allahuma) kami”. Ini sangat bertentangan dengan
apa yang “Tuhan” nyatakan kepada Musa ketika ia mengatakan, “Akulah YAHWEH
Elohimmu!” Muhammad berusaha untuk mengislamkan Tuhan dari
Perjanjian Lama.
Isa di dalam Al-Qur'an menyebut hidangan
makanan dari surga itu sebagai pesta yang sangat istimewa untuk semua orang,
untuk semua murid Kristus baik yang terbesar maupun yang terkecil secara
setara. Mungkin Muhammad di dalam imajinasinya mencampurkan antara perjamuan
Tuhan dengan pemberian makan kepada 5.000 orang sebagai peristiwa yang sama. Ia
menyebut hidangan ini sebagai tanda mujizat. Itulah sebabnya ia menyebut
Surat kelima di dalam Al-Qur'an sebagai “Hidangan” (al-Ma'ida).
Putera Maryam juga meminta kepada Allah
untuk memberi rezeki kepada pengikutnya secara tetap dengan segala
makanan yang diperlukan. Di dalam Islam, iman berarti nafkah (Surat
Fatir 35:29-30) dan akan membawa kepada keberhasilan yang nyata. Allah bukanlah
bapa tetapi sultan yang secara murah memberi rezeki kepada orang-orang
Muslimnya – kalau ia menghendakinya.
Allah langsung mengabulkan doa
Isa, yang sangat luar biasa di dalam Islam. Ketika Isa masih berdoa, Allah
secara seketika langsung mengirimkan hidangan surgawi untuk murid-murid Isa
yang kelaparan.
Akibat sampingan dari mujizat Isa, bagaimanapun,
sangat menakutkan. Allah mengancam siapa saja yang tidak mau percaya di antara murid-muridnya
akan diberi hukuman yang sangat mengerikan di antara semua hukuman yang terjadi
di dunia sekarang dan yang akan datang. Ancaman ini juga diarahkan kepada
orang-orang Muslim (!) kecuali kalau mereka percaya kepada mujizat Isa
sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Qur'an.
Para penafsir Al-Qur'an lebih banyak
membicarakan mengenai beragam makanan di dalam hidangan itu dibandingkan dengan
hakekat dari dia yang sudah menyiapkan pemberian-pemberian surgawi itu. Orang-orang
Muslim berusaha mencari tahu apakah anggur, daging babi dan makanan-makanan
terlarang lainnya disiapkan bagi mereka di surga, tetapi mereka lupa kepada dia
yang menurunkan hidangan itu bagi mereka. Kebanyakan mereka tidak menyadari
bahwa di dalam Islam, Putera Maryam memiliki hak istimewa untuk menjadi
syafaat bagi para pengikutnya.
Ketika anda mengatakan kepada
orang-orang Muslim bahwa Yesus hanya memiliki lima roti dan dua ikan, dalam peristiwa
Ia memberi makan 5.000 orang, anda akan bertemu dengan wajah yang panjang dan kecewa,
karena roti dan ikan tidak dianggap sebagai makanan khusus dari Firdaus.
Tetapi anda bisa menolong pendengar anda
untuk berpikir bahwa Yesus mengucapkan syukur untuk sesuatu yang sedikit yang
ada di tangan-Nya, dan bahwa kemudian, ketika Ia mengucapkan syukur, hal itu
menjadi makanan dalam jumlah yang besar. Kemudian anda bisa menjelaskan kepada
orang-orang Muslim bahwa menerima makanan dan uang bukanlah bukti akan
kebenaran, tetapi justru iman dengan ucapan syukur lebih dahulu di depan akan
membawa berkat bagi banyak orang.
Kita tahu bahwa Yesus sendiri
merupakan pusat dari mujizat ini, dan bukannya pelipatgandaan roti itu. Tuhan
kita menjamin kepada kita bahwa Ia memberikan makanan sehari-hari kepada semua
yang mengikut Dia, percaya kepada-Nya dan mengucap syukur terlebih dahulu
kepada-Nya untuk penyediaan perhatian-Nya. Hal ini sangat bertolak belakang
dengan apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an. Anugerah Alkitab dari Tuhan Bapa bisa
menggantikan konsep tentang sultan yang sewenang-wenang yang menyelamatkan
siapa saja yang dikehendakinya, dan yang menyesatkan siapa saja yang
dikehendakinya.
Berita yang paling menonjol dari mujizat
Kristus di dalam Al-Qur'an ini adalah bukti bahwa Ia adalah satu-satunya
Pengantara antara Tuhan dengan manusia. Ia adalah pusat rahasia dari
mujizat besar ini yang bisa dipahami oleh semua orang Muslim kalau ia memang
mau. Doa di dalam nama Kristus menjadi sesuatu yang mungkin bagi orang-orang Muslim
juga. Kristus sudah membuka pintu kepada Tuhan bagi kita. Tidak ada jalan untuk
sampai kepada Bapa kecuali melalui Dia. “Karena Allah itu esa dan esa pula
Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus
Yesus " (1 Tim. 2:5, Surat al- Anbiya' 21:28).
8. Isa pembuat
peraturan yang ilahi
Di dalam Al-Qur'an kita menemukan
beberapa bagian yang di dalamnya menyaksikan kedaulatan Kristus di atas Hukum
Taurat. Dua dari antara bagian itu menyebut tentang sikapnya dan tindakannya
sehubungan dengan ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama sebagai suatu tanda dan
suatu bukti tentang misi ilahinya (Surat Āl 'Imran
3:50-51;
al-Ma'ida 5:46-47; al-Zukhruf 43:63). Beberapa hal di bawah ini me-ngenai
mujizat berhubungan dengan hukum perlu dipertimbangkan:
Allah mengutus Kristus ke dalam dunia
ini untuk menegaskan ketidakbersalahan Taurat. Mengapa kemudian
orang-orang Muslim terus menerus menuduh bahwa Taurat sudah dipalsukan?
Al-Qur'an sendiri menyangkal pernyataan itu sampai beberapa kali. Sebagai
tambahannya, Kristus adalah firman Allah yang menjadi manusia dan dengan
itu mewakili Taurat di dalam kehidupannya
(Surat Āl 'Imran 3:50; al-Ma'ida
5:46 dll.).
Allah sendiri mengajar Putera Maryam –
sebelum ia lahir – tentang Taurat, Amsal Salomo, Injil dan Kitab Asli de-ngan
semua penjelasannya (Surat Āl 'Imran 3:48). Karena itu Isa mampu
datang kepada bangsa Israel
dengan hikmat ilahi dan menjelaskan kepada mereka semua pertanyaan yang
tidak terjawab tentang hukum, dan dengan itu menghilangkan adanya alasan untuk
perpe-cahan.
Menurut Al-Qur'an, Kristus memiliki
kedaulatan untuk mengubah dan membatalkan beberapa perintah Allah di
dalam Taurat, dan untuk membebaskan para pengikutnya dari peraturan itu. Jadi
di dalam Islam, Isa adalah seorang pembuat peraturan. Ia tidak ada di
bawah hukum sebagai pelaksana. Ini lebih dari sekedar mujizat bagi orang
Muslim, karena
bagi mereka
Allah sendirilah yang menjadi pembuat peraturan dan yang memberi pernyataan
tentang Hukum. Menurut Al-Qur'an Kristus memiliki fungsi ilahi karena ia
sendiri adalah inkarnasi dari firman Allah di dalam daging. Ia adalah
kebenaran ilahi dan hukum yang menjadi manusia (Yohanes 13:34; lihat Surat
Maryam 19:21; al-Anbiya' 21:91; al-Mu'minun 23:50 dan yang lainnya).
Di dalam ayat-ayat Al-Qur'an ini
kita mendengar suatu gema dari pernyataan Yesus sendiri, “Janganlah kamu
menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius
5:17-18) Ia juga menjelaskan, "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada
nenek moyang kita … Tetapi Aku berkata kepadamu!” (Matius 5:21-48) "Bukan
yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari
mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11.16-20)
Muhammad mungkin sudah mendengar
prinsip-prinsip revolusioner yang diajarkan Kristus, tetapi ia tidak memahami
semuanya itu sebagai penggenapan Hukum Taurat, tetapi sebagai dihilangkannya
beberapa halangan terhadap Hukum bagi para muridnya. Dengan cara yang sangat
mengejutkan ia menerapkan kepada Isa hak istimewa ilahi ini untuk
meniadakan hukum dan untuk mengadakan yang baru sebagai utusan Allah.
Meski ada semua perubahan terhadap Hukum
Taurat oleh Putera Maryam, ia menegaskan inti dari ibadah Islam: “Takutlah
kepada Allah!” Islam tidak dikuasai oleh rasa kasih Allah kepada manusia,
dan juga bukan kasih manusia kepada Allah. Tidak ada gambaran Allah sebagai Bapa
yang ingin menyelamatkan semua manusia, tetapi hanya kuasa, kemahakuasaan dan
kedaulatan yang suci dari Allah, yang, sebagai diktator, tidak bisa
dipertanyakan atau diminta bertanggungjawab atas sesuatu. Orang-orang Muslim
hanya bisa bersujud di hadapannya dan beribadah kepadanya dengan rasa hormat
mendalam dengan penuh ketakutan.
Ketundukan yang serupa juga harus
diberikan kepada setiap utusan dari Allah. Di dalam Al-Qur'an, Putera
Maryam dua kali menuntut dari semua orang Yahudi, orang Kristen dan
orang Muslim: “Taatlah kepadaku!” (Surat
Āl 'Imran 3:50; al-Zukhruf
43:63). Kalimat ini tentu saja menjungkirbalikkan pemikiran Islam! Semua orang
harus menghormati Kristus Yesus, menyerahkan diri kepada-Nya dan mentaati
perintah-perintah-Nya dengan setia, sama seperti mereka takut kepada Allah!
Islam tidak mengajarkan, “Percaya kepada anugerah Allah, atau terimalah
pengampunan kasih Kristus atau kasihilah Dia karena Ia mengasihimu terlebih dahulu,”
tetapi justru Isa menuntut ketaatan-iman dan ketundukan tanpa syarat di bawah
kedaulatan darinya. Siapa saja yang memahami perintah di dalam Al-Qur'an
ini bisa menemukan cara yang bagus untuk menginjili orang Muslim. Seorang
Muslim harus terlebih dahulu belajar hukum Kristus sebelum ia
belajar tentang anugerah keselamatan-Nya.
Kita harus belajar dengan dia
tentang 510 perintah Kristus di dalam keempat Injil dan membandingkan semuanya
dengan 613 perintah Musa di dalam Taurat. Kemudian kita harus hidup menurut
Hukum Yesus sebagaiteladan yang sesungguhnya dan mengakui di hadapan seorang Muslim
bahwa kita semua tidak bisa menggenapi perintah-perintah-Nya dengan sempurna,
dan bahwa karena itu kita harus meminta pengampunan setiap hari. Seorang Muslim
harus memahami bahwa sangat tidak mungkin untuk menggenapi hukum Kristus dengan
kekuatan sendiri karena Ia memerintahkan kepada kita, “Karena itu haruslah
kamu
sempurna, sama
seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna!” (Matius 5:48)
dan "Kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes
13:34) Kemudian ia mungkin memahami bahwa tidak seorang pun bisa menggenapi
hukum Kristus dengan kekuatannya sendiri, tetapi memerlukan pengampunan Yesus
dan keselamatan dari-Nya setiap hari. Anugerah Kristus Yesus adalah
satusatunya jalan kepada Bapa (Yohanes 3:16; 14:6 dll.).
Muhammad dengan cepat menghentikan pemikiran
dan kesimpulan kritis yang demikian dengan membuat Yesus mengatakan, “Allah
adalah Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia, itulah ibadah yang benar.” Ia tidak
membiarkan Isa di dalam Al-Qur'an mengatakan, “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku
dan Bapa-mu, Allah-Ku dan Allah-mu!” Tidak, Muhammad menempatkan Isa di bawah
kuasa dan kedaulatan Allah. Muhammad tidak pernah siap untuk mengakui bahwa
Kristus Yesus adalah Tuhan sendiri bagi kemuliaan Allah Bapa-Nya.
Sementara menerima prinsip-prinsip pokok dari iman Kristen, ia akhirnya menolak
inti yang paling dalam dan membuat Putera Maryam sebagai hamba Allah, yang
akan membawa para pengikutnya ke Firdaus di “jalan yang lebar” dari Hukum
Islam. Tetapi meski ada muslihat Islami ini, Muhammad sendiri sudah menegaskan kebenaran
bahwa Kristus Yesus adalah pembuat peraturan yang ilahi, yang memiliki
hak untuk menuntut ketaatan tanpa syarat bagi pengikutnya dan dari semua
manusia. Kita harus membuat para pencari kebenaran di dalam Muslim menyadari
bagian dari Al-Qur'an ini, dan menolong mereka – sesudah mereka mengalami
kehancuran kesombongan rohani – untuk menerima anugerah Kristus yang tersedia
bagi mereka juga.
9. Kristus
memperbaharui pengikut-pengikut-Nya
Di dalam Al-Qur'an ada beberapa ayat
yang menjelaskan karakter Kristen dengan cara yang positif. Dari kesaksian
Muhammad orang bisa melihat bahwa Putera Maryam mampu mengubah orang yang
sombong menjadi orang yang rendah hati dan orang yang egois menjadi hamba yang
penuh belas kasihan. Inilah mujizat terbesar yang dilakukan oleh Kristus
menurut kitab orang Muslim. Perubahan ini tidak hanya terjadi satu kali, tetapi
terjadi
setiap hari,
dahulu dan sekarang. Orang-orang Kristen dijelaskan lebih dari 50 kali di dalam
Al-Qur'an. Beberapa dari ayat itu tidak hanya menuliskan mengenai orang-orang
Kristen saja, tetapi orang-orang Yahudi juga (Surat
Āl 'Imran 3:55.113-114.199;
al-Ma'ida 5:65-68; al-An'am 6:90; al-Hadid 57:27; al-Saff 61:14 dll.). Di dalam Surat Āl 'Imran kita membaca evaluasi Muhammad atas suatu delegasi Kristen
yang berasal dari Yaman Utara (Wadi Nadjran), yang berdiskusi dengan dia
tentang iman di Medinah selama tiga hari. Ia berusaha
membawa
orang-orang itu kepada Islam dan membuat Allah berkata kepada Isa,
"Aku akan
menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari
kiamat." (Surat Āl 'Imran 3:55)
إِذْ قَالَ اللَّهُ
یَا عِیسَى إِنِّي مُتَوَفِّیكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِینَ
كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِینَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِینَ كَفَرُوا إِلَى یَوْمِ
الْقِیَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَیْنَكُمْ فِیمَا كُنْتُمْ فِیهِ
تَخْتَلِفُونَ
Muhammad dan orang-orang Muslimnya
sangat terkesan oleh delegasi 60 orang Kristen dari Yaman Utara yang berpakaian
rapi itu. Muhammad merasa bahwa budaya mereka lebih tinggi dari
budayanya dan ingin menarik mereka kepada Islam. Ia melihat keunggulan mereka
dan dominasi ekonomi mereka atas para penyembah berhala dan juga kaum animis.
Tetapi, tentu saja, di dalam negosiasi itu ia tidak mengatakan pandangannya yang
sebenarnya, yaitu bahwa orang-orang Muslim, tentu saja, dalam tingkatan yang
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang Kristen. Di dalam Surat yang
sama kita membaca tentang para budak dan pekerja yang bertemu pada malam hari
dan membaca Alkitab bersama-sama, dan beribadah kepada Tuhan mereka dengan
bersujud. Mungkin mereka adalah kaum Kristen ortodoks, karena orang-orang dari
gereja yang lain, dan bahkan orang Yahudi, tidak bersujud di dalam ibadah
mereka. Muhammad mengakui bahwa mereka memelihara perjanjian mereka dengan
Allah dan bahwa hidup mereka sesuai dengan iman mereka. Ia menyebut mereka sebagai
“orang-orang baik” yang akan diberi pahala oleh Allah
(Surat Āl 'Imran
3:113-114). Betapa sebuah kesaksian yang hebat tentang orang-orang Kristen yang
dianggap rendah di Hidjaz!
Menurut Surat Āl
'Imran, Muhammad juga bertemu dengan orang-orang Kristen yang rendah hati dan
sederhana dan yang mengutip ayat-ayat dari Alkitab tanpa meminta uang, bertolak
belakang dengan orang Yahudi di Medinah yang biasanya hanya mengatakan
kepadanya sebagian dari Mishna atau Talmud ketika ia pada awalnya membeli
barang-barang dari mereka (Āl 'Imran 3:199). Beberapa kali orang-orang Kristen,
menurut Al-Qur'an, berusaha untuk menginjili Muhammad, tetapi sia-sia. Di dalam
Surat al-Ma'ida, sebuah garis pemisah ditarik untuk membedakan antara
orang-orang Yahudi dengan orang-orang Kristen. Allah disebut-sebut memberi pernyataan
kepada Muhammad:
"Sungguh
akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang
yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan
sesungguhnya akan engkau dapati juga orang yang paling dekat kasih sayangnya
terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata,
“Sesungguhnya kami adalah orang Nashara.” Yang demikian itu disebabkan di
antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan sesungguhnya mereka itu
tidak menyombongkan diri." (Surat al-Ma'ida 5:82)
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ
النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِینَ آمَنُوا الْیَهُودَ وَالَّذِینَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ
أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِینَ آمَنُوا الَّذِینَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ
بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّیسِینَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لا یَسْتَكْبِرُونَ
Muhammad
mengenali kerendahan hati Kristus di dalam diri para pengikutnya, yang tidak
berusaha untuk menjadikan diri mereka sebagai orangorang hebat. Pada saat yang
sama Muhammad mengetahui bahwa ciri ini tidak datang dari diri mereka sendiri
tetapi datang dari pemimpin rohani mereka. Ayat ini memberikan pengakuan yang
sangat luar biasa tentang kerendahan hati yang dimiliki oleh orang-orang
Kristen pada jaman Muhammad. Di dalam Surat al-Hadith anda bisa membaca suatu
analisa yang sangat nyata tentang orang-orang Kristen. Muhammad membuat Allah
mengatakan, "Kami ikutkan Isa, Putera Maryam, dan Kami berikan Injil
kepadanya, dan Kami jadikan perasaan santun dan kasih sayang dalam hati
pengikut-pengikutnya." (Surat al-Hadid 57:27)
ثُمَّ قَفَّیْنَا
عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّیْنَا بِعِیسَى ابْنِ مَرْیَمَ وَآتَیْنَاهُ الإنْجِیلَ
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِینَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِیَّةً
ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَیْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا
رَعَوْهَا حَقَّ رِعَایَتِهَا فَآتَیْنَا الَّذِین آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِیرٌ
مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Muhammad membuat
perbedaan di antara berbagai macam orang Kristen: Ia menyebut para pencari
kebenaran sebagai murid-murid; para pejuang yang bersemangat dan penolong
yang siap langsung berlari menuju medan peperangan memerangi doktrin baru; orang-orang
yang percaya yang sadar dan para penyembah yang berdoa yang berusaha
untuk hidup sesuai dengan keyakinan mereka; ‘orang-orang Muslim’ yang
sejati yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan utusannya
(Kristus) dan berserah kepadanya tanpa syarat; para pengikut yang
berusaha untuk meneladani guru mereka dan mengikuti Dia melalui masa-masa susah
dan senang; dan para saksi mata dari perbuatan-perbuatannya yang siap
untuk
mati bagi
kesaksian mereka. Mereka hanya meminta satu hal saja kepada Isa, yaitu bahwa ia
akan menuliskan nama mereka di dalam Kitab Kehidupan di surga (Surat Āl 'Imran 3:52-53).
Menurut
Muhammad, tidak semua orang Kristen mengambil bagian di dalam rahasia mujizat
terbesar yang dilakukan Kristus – kecuali bagi para pengikutnya! Muhammad
merasa bahwa Alllah secara pribadi melakukan mujizat de-ngan mereka. Ia
meletakkan sesuatu ke dalam hati mereka, sesuatu yang tidak dimiliki oleh
orang-orang lain: belas kasihan dan kasih karunia, bahkan untuk
musuh-musuh mereka! Ketika Muhammad menyelidiki tentang asal dari kharisma ini
ia tidak menemukan sumber yang lain kecuali Injil, yang diwahyukan oleh
Allah kepada Isa. Muhammad percaya bahwa belas kasihan dan kasih karunia di
dalam hati para pengikut Kristus berasal dari kitab itu. Tetapi ia tidak
me-ngenal kuasa Roh Kudus yang atasnya Paulus menuliskan, “Karena kasih
Elohim telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah
dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)
Muhammad berpikiran positif terhadap
orang-orang Kristen yang sebenarnya. Ia tidak hanya mengenal Waraqa b. Naufal,
sepupu dari istri pertamanya Kadijah, seorang penatua yang terhormat dari
sebuah kelompok Pemahaman Alkitab di Mekah, tetapi ia mengetahui bahwa 83 orang
Muslim menemukan perlindungan di dalam lindungan orang-orang Kristen di Abyssinia
ketika penganiayaan terhadap orang-orang Muslim di Mekkah menjadi tidak
tertahankan. Sikap dari orang-orang Kristen Abyssinia membentuk gambaran
tentang orang-orang Kristen di dalam Al-Qur'an lebih daripada yang kita
perkirakan. Namun, orang-orang Abyssinia itu gagal menginjili para pengungsi
Muslim itu. Ketika orang-orang Muslim itu kembali ke Medinah setelah Islam
menjadi kuat, 230 orang Ethiopia sudah menerima Islam, sementara hanya ada
seorang Muslim yang menjadi Kristen. Dan satu orang itupun mati segera setelah
ia berpindah agama itu (mungkin ia mati karena mengalami kekerasan?).
Di dalam Surat al-Saff orang-orang
Kristen disebut sebagai penolong dan kawan sekerja Allah ketika mereka
bersumpah untuk setia kepada Isa di dalam pengadilan terhadapnya dan
bersiap-siap untuk berjuang baginya. Allah memastikan kemenangan mereka atas
musuh-musuh mereka (Surat al-Saff 61:14). Ketika anda membaca ayat-ayat itu di
dalam Al-Qur'an, anda akan menemukan bahwa Muhammad mengatakan kalau Isa sudah
mengubah para pengikutnya menjadi serupa dengan dia. Mereka mengasihi
musuh-musuh mereka, memberkati orang-orang yang mengutuk mereka dan melakukan kebaikan
kepada mereka yang menghujat dan menganiaya mereka (Matius 5:44). Mereka sangat
rendah hati dan lemah lembut, tidak tamak, tetapi berdoa di lingku-ngan jemaat
mereka, bahkan kalau perlu pada waktu malam hari. Kitab mereka menjadi pusat
dan sumber bagi ibadah mereka.
Orang-orang
Kristen ini, dijelaskan di dalam Al-Qur'an, biasanya bukanlah orang-orang
asing, tetapi orang-orang Arab yang berasal dari Utara, Selatan dan
Barat Semenanjung Arab. Kristus menggenapkan mujizat terbesar-Nya di dalam
mereka: mereka hidup seturut dengan apa yang mereka percayai dan sudah menjadi ciptaan
baru de-ngan anugerah dari Juruselamat mereka. Hari ini orang-orang yang
dulunya Muslim menemukan identitas mereka sebagai orang-orang Kristen
Alkitabiah yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat ini bisa
menolong mereka ketika mereka berbicara dengan saudara-saudara mereka yang
Islam.
10. Ayatullah
yang sesungguhnya
Dua kali kita menemukan di dalam
Al-Qur'an bahwa Kristus Yesus dan ibunya adalah dua tanda agung dari
Allah (Surat al-Anbiya' 21:91; al-Mu'minun 23:50). Sekali hal itu menyatakan bahwa
Kristus sendiri adalah tanda bagi manusia dan kasih karunia yang dari Allah (Surat
Maryam 19:21). Ketiga ayat di atas menegaskan rahasia Kristus di dalam
Al-Qur'an dan menyimpulkan hakekat yang sesungguhnya dari semua mujizatnya. Tujuan
dari mujizat-mujizatnya bukanlah mujizat itu sendiri tetapi sebagai pernyataan
tentang dia, yang melakukan mujizat-mujizat itu.
Di dalam bahasa Arab kata untuk tanda
adalah ayatun yang juga berarti mujizat. Dengan menggabungkan
kata itu dengan kata Allah maka kedua kata itu akan membentuk suatu
gelar yang sangat terhormat Ayatullah! Kristus Yesus adalah tanda mujizat dari
Allah! Teks di dalam Al-Qur'an memperluas makna dari kata ini dan menunjukkan
tujuannya: bagi manusia! Semua orang harus melihat kemahakuasaan Allah
dan kasihNya di dalam diri Putera Maryam. Tidak ada nabi, raja atau imam yang
lain yang menyandang gelar kehormatan ini menurut Al-Qur'an, bahkan Muhammad juga
tidak. Kristus sendiri adalah satu-satunya mujizat Allah yang harus
diakui manusia. Semua Ayatullah yang lain menerima gelar mereka hanya dari
manusia.
Ketika kita bertanya mengapa Putera
Maryam menjadi tanda terbesar dari Allah di dalam Al-Qur'an, kita menemukan
jawabannya di dalam kepercayaan Islam bahwa Allah menciptakan Kristus di dalam
diri Maryam sepenuhnya hanya melalui firman, tanpa ada keikutsertaan dari
seorang ayah manusia. Allah menghembuskan rohnya ke dalam tubuh Maryam. Karena itu
Kristus bukan hanya sekedar seorang manusia yang dilahirkan oleh seorang perempuan,
tetapi menurut Al-Qur'an, juga roh dari Allah di dalam tubuh manusia. Isa sudah
ada bersama-sama dengan Allah bahkan sebelum ia dilahirkan. Setelah kenaikannya
ia kembali kepada Allah dengan tubuh, jiwa dan roh. Saat ini, Yesus hidup
bersama dengan Allah. Muhammad sudah mati. Kristus Yesus adalah satu-satunya
manusia yang bisa disebut sebagai “Roh Allah” dan “firmannya yang
berinkarnasi.” Karena itu Kristus adalah satu-satunya tanda dari Allah yang
bisa dirasakan bagi semua manusia. Dari dua keberadaan ini – sebagai
manusia yang sempurna dan roh Allah yang sempurna – semua tanda-tanda dan
mujizatnya terjadi, menurut Al-Qur'an:
Ia adalah firman Allah yang
berinkarnasi. Ia sudah bisa berbicara ketika masih bayi baru lahir yang masih
ada di ayunan.
Ia adalah pencipta dengan roh
yang memberi kehidupan – dengan ijin Allah!
Ia penuh dengan belas kasihan bagi
orang-orang yang sakit dan sengsara. Ia menyembuhkan semua yang datang
kepadanya.
Ia adalah dokter yang terbaik di
dunia – dengan ijin Allah!
Ia menang atas maut, karena Ia
membangkitkan orang mati – dengan ijin Allah!
Ia mahatahu, karena “mata sinar
x” yang dimilikinya bisa melihat semua orang dan segala sesuatu.
Ia memiliki hak untuk menaikkan
syafaat sebagai pengantara antara Allah dengan para pengikutnya.
Ia menurunkan makanan dari Firdaus bagi
mereka dan memberi rezeki kepada mereka dengan makanan untuk setiap hari!
Ia adalah pemberi hukum dan sudah
menegaskan ketidakbersalahan Hukum Taurat. Ia mengubah hukum ilahi dan
menetapkan aturan yang baru.
Ia disebut menuntut ketaatan-iman dari
semua manusia, termasuk orang-orang Muslim.
Ia mengubahkan karakter yang sombong
dari antara para pengikutnya dan memenuhi mereka dengan kasih dan
kerendahan hati. Tanda-tanda ini di dalam Al-Qur'an adalah seperti cermin
yang memantulkan keadaan dan sifat Isa, Putera Maryam. Semuanya menjelaskan
bahwa ia adalah mujizat di atas semua mujizat. Yesus yang Alkitabiah
bisa diperhatikan berulangkali di dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Muhammad
mencantumkan banyak dari iman Kristen di sana untuk menjadikan Al-Qur'annya
sebagai sesuatu yang sepadan dengan Injil, sehingga orang-orang Kristen akan
tertarik untuk menerima Islam. Ia tidak selalu menyatakan penolakannya akan
keilahian Kristus, dan juga ia tidak membuang penyaliban Yesus. Ia mengakui Isa
sebagai pembuat mujizat yang penuh belas kasihan, tabib, pembangkit orang mati
dan pembuat peraturan untuk membuat orang-orang Kristen tertarik kepada Islam.
Jadi, kita memiliki hak untuk mengeluarkan kesaksian yang
menyimpang tentang orang-orang Kristen dari Al-Qur'an dan meletakannya secara
tepat dari keseluruhan Injil yang benar, sebagai satu-satunya kebenaran dan jalan
untuk berdamai dengan Allah. Tujuannya bukan hanya untuk menunjukkan hukum dan
anugerah, perintah dan ketaatan di dalam iman, tetapi untuk memberikan gambaran
tentang Kristus yang sebenarnya di hadapan mata orang-orang Muslim, supaya
mereka bisa melihat Dia, mengasihi Dia, percaya kepada Dia,
berpegang kepada Dia, menerima kehidupan kekal dari Dia dan
menghasilkan buah-buah Roh yang dari Dia. Untuk ini, Yesus menyebut
diri-Nya sebagai terang dunia, roti hidup, jalan yang benar, kebenaran kekal,
gembala yang baik, pokok anggur yang benar, kebangkitan dan hidup, raja (dengan
mahkota duri), yang awal dan yang akhir. Kata-kata “Akulah…” dari Yesus di
dalam Injil bisa memberikan penerangan kepada orang-orang Muslim yang mencari
kebenaran untuk memahami bahwa Yesus bukan hanya seorang pembuat mujizat tetapi
sepenuhnya kasih Tuhan dan kekudusan